Dewa Bayu

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Dewa Bayu
link : Dewa Bayu

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Dewa Bayu


Dewa BayuDewa Bayu, dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dewa Bayu

Bayu, Batara atau Dewa Bayu adalah anak Batara Guru dengan Dewi Uma. Dewa Bayu bertubuh gagah perkasa lebih besar dibandingkan dengan dewa-dewa yang lain. Ia memiliki kuku pusaka yang bernama Kuku Pancanaka, dan mengenakan kain bermotif kothak-kothak berwarna-warni, yang disebut kampuh Poleng Bang Bintulu Aji. Dewa Bayu dikenal sebagai dewa yang berkuasa atas angin, oleh karenanya ia juga disebut Hyang Maruta. Maruta artinya angin. Karena kekuasaannya itu, Ia mempunyai aji Sepi Angin yang memungkinkan dirinya dapat bergerak sangat cepat seperti gerakan angin.

Figur Wayang Dewa Bayu


Dewa BayuDewa Bayu, dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dewa Bayu

Bayu, Batara atau Dewa Bayu adalah anak Batara Guru dengan Dewi Uma. Dewa Bayu bertubuh gagah perkasa lebih besar dibandingkan dengan dewa-dewa yang lain. Ia memiliki kuku pusaka yang bernama Kuku Pancanaka, dan mengenakan kain bermotif kothak-kothak berwarna-warni, yang disebut kampuh Poleng Bang Bintulu Aji. Dewa Bayu dikenal sebagai dewa yang berkuasa atas angin, oleh karenanya ia juga disebut Hyang Maruta. Maruta artinya angin. Karena kekuasaannya itu, Ia mempunyai aji Sepi Angin yang memungkinkan dirinya dapat bergerak sangat cepat seperti gerakan angin.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Dursasana

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Dursasana
link : Dursasana

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Dursasana

Dursasana

Tokoh Dursasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi rumah budaya. (Foto: Sartono)
Dursasana

Dursasana adalah anak nomor dua dari pasangan Destarastra dengan Dewi Gendari. Ia mempunyai 99 saudara kandung yang disebut Kurawa. Adik Prabu Duryudana raja Hastina ini bertempat tinggal di kadipaten Banjarjungut. Ia beristrikan salah satu putri dari Negeri Kasipura atau Swantipura yang bernama Dewi Saltani. Dari perkawinannya Dursasana mempunyai anak tunggal bernama Raden Dursala.

Figur Wayang Dursasana

Dursasana

Tokoh Dursasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi rumah budaya. (Foto: Sartono)
Dursasana

Dursasana adalah anak nomor dua dari pasangan Destarastra dengan Dewi Gendari. Ia mempunyai 99 saudara kandung yang disebut Kurawa. Adik Prabu Duryudana raja Hastina ini bertempat tinggal di kadipaten Banjarjungut. Ia beristrikan salah satu putri dari Negeri Kasipura atau Swantipura yang bernama Dewi Saltani. Dari perkawinannya Dursasana mempunyai anak tunggal bernama Raden Dursala.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Yamadipati

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Yamadipati
link : Yamadipati

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Yamadipati

Yamadipati
Sang Hyang Yamadipati, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Badaya (foto: Sartono)
Yamadipati

Yamadipati adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar dan Dewi Kanastri atau Kanestren. Ia mempunyai saudara kandung yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi Darmanastiti, Dewi Superti. Isteri Sang Hyang Yamadipati adalah Dewi Mumpuni, seorang bidadari yang cantik jelita, pemberian Batara Guru.

Figur Wayang Yamadipati

Yamadipati
Sang Hyang Yamadipati, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Badaya (foto: Sartono)
Yamadipati

Yamadipati adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar dan Dewi Kanastri atau Kanestren. Ia mempunyai saudara kandung yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi Darmanastiti, Dewi Superti. Isteri Sang Hyang Yamadipati adalah Dewi Mumpuni, seorang bidadari yang cantik jelita, pemberian Batara Guru.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Rama Wijaya

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Rama Wijaya
link : Rama Wijaya

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Rama Wijaya Rama Wijaya dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Rama Wijaya Rama Wijaya adalah kesatria titisan Dewa Wisnu. Ia adalah anak Prabu Dasarata, raja Ayodya. Ibunya bernama dewi Sukasalya atau Dewi Raghu. Orang menyebut Rama Wijaya dengan sebutan Raden Regawa yang berarti anak Dewi Raghu. Rama merupakan tokoh utama dalam cerita Ramayana. Ia memiliki saudara lain ibu yaitu Barata anak dari Ibu Dewi Kekayi, serta Lesmana dan Satrugna dari ibu Dewi Sumitrawati. Rama bersaudara sejak kecil dididik oleh Resi Wasista, seorang resi yang sangat sakti pada masa itu. Oleh karena itu Rama, Barata dan Lesmana ketika dewasa menjadi satria pilih tanding, sakti rendah hati dan berbudi luhur.

Istri Ramawijaya adalah Dewi Sinta, seorang putri yang sangat cantik, anak angkat Prabu Janaka dari Negara Mantilidirja. Dewi Sinta adalah titisan Dewi Sri Widowati yang menjadi rebutan para raja seribu Negara termasuk Prabu Dasamuka raja raksasa dari Negara Alengkadiraja. Oleh karena nafsu ingin memiliki atas Dewi Sinta yang adalah merupakan titisan Dewi Widawati, Prabu Dasamuka selalu berusaha untuk mencari saat yang tepat untuk menculik Dewi Sinta. Pada suatu saat, ketika Prabu Ramawijaya dan Dewi Sinta berada di dalam pelet wanita hutan, Prabu Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta. Ramawijaya sangat sedih atas hilangnya sang istri. Ia bersama Lesmana adiknya bertekad mencari Dewi Sinta hingga ketemu. Sampai kapan pun pencarian tersebut belum akan berhenti sebelum ketemu. Diceritakan bahwa dalam perjalanan mencari Dewi Sinta,

Rama mendapatkan sahabat seorang raja kera bernama Sugriwa yang mempunyai ratusan ribu perajurit kera. Dalam persahabatan tersebut, Sugriwa memohon kepada Ramawijaya untuk membantu mengalahkan kakaknya yang sekaligus adalah musuhnya bernama Subali. Setelah Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa bersama bala tentara kera berjanji akan membantu Ramawijaya mencari Dewi Sinta sampai ketemu. Dalam usaha pencarian Dewi Sinta ini yang sangat besar jasanya adalah Anoman keponakan Sugriwa yang sangat sakti mandraguna.

Anoman berhasil menemukan Negara Alengkadiraja tempat Dewi Sinta disekap oleh Dasamuka. Maka kemudian diseranglah Negara Alengkadiraja oleh Prabu Rama, Sugriwa dan balatentaranya. Perang besar terjadi antara pasukan Kera dan pasukan raksasa. Prabu Dasamuka gugur ditangan Anoman. Perang tersebut dikenal dengan nama perang Giriantara atau perang Kudupsari Palwaga. Dewi Sinta berhasil diboyong Ramawijaya kembali ke Ayodya. Rama menjadi raja di Ayodya menggantikan Barata adiknya. Mereka diberi karunia dua anak bernama Batlawa dan Kusiya. Herjaka HS

Figur Wayang Rama Wijaya Rama Wijaya dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Rama Wijaya Rama Wijaya adalah kesatria titisan Dewa Wisnu. Ia adalah anak Prabu Dasarata, raja Ayodya. Ibunya bernama dewi Sukasalya atau Dewi Raghu. Orang menyebut Rama Wijaya dengan sebutan Raden Regawa yang berarti anak Dewi Raghu. Rama merupakan tokoh utama dalam cerita Ramayana. Ia memiliki saudara lain ibu yaitu Barata anak dari Ibu Dewi Kekayi, serta Lesmana dan Satrugna dari ibu Dewi Sumitrawati. Rama bersaudara sejak kecil dididik oleh Resi Wasista, seorang resi yang sangat sakti pada masa itu. Oleh karena itu Rama, Barata dan Lesmana ketika dewasa menjadi satria pilih tanding, sakti rendah hati dan berbudi luhur.

Istri Ramawijaya adalah Dewi Sinta, seorang putri yang sangat cantik, anak angkat Prabu Janaka dari Negara Mantilidirja. Dewi Sinta adalah titisan Dewi Sri Widowati yang menjadi rebutan para raja seribu Negara termasuk Prabu Dasamuka raja raksasa dari Negara Alengkadiraja. Oleh karena nafsu ingin memiliki atas Dewi Sinta yang adalah merupakan titisan Dewi Widawati, Prabu Dasamuka selalu berusaha untuk mencari saat yang tepat untuk menculik Dewi Sinta. Pada suatu saat, ketika Prabu Ramawijaya dan Dewi Sinta berada di dalam pelet wanita hutan, Prabu Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta. Ramawijaya sangat sedih atas hilangnya sang istri. Ia bersama Lesmana adiknya bertekad mencari Dewi Sinta hingga ketemu. Sampai kapan pun pencarian tersebut belum akan berhenti sebelum ketemu. Diceritakan bahwa dalam perjalanan mencari Dewi Sinta,

Rama mendapatkan sahabat seorang raja kera bernama Sugriwa yang mempunyai ratusan ribu perajurit kera. Dalam persahabatan tersebut, Sugriwa memohon kepada Ramawijaya untuk membantu mengalahkan kakaknya yang sekaligus adalah musuhnya bernama Subali. Setelah Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa bersama bala tentara kera berjanji akan membantu Ramawijaya mencari Dewi Sinta sampai ketemu. Dalam usaha pencarian Dewi Sinta ini yang sangat besar jasanya adalah Anoman keponakan Sugriwa yang sangat sakti mandraguna.

Anoman berhasil menemukan Negara Alengkadiraja tempat Dewi Sinta disekap oleh Dasamuka. Maka kemudian diseranglah Negara Alengkadiraja oleh Prabu Rama, Sugriwa dan balatentaranya. Perang besar terjadi antara pasukan Kera dan pasukan raksasa. Prabu Dasamuka gugur ditangan Anoman. Perang tersebut dikenal dengan nama perang Giriantara atau perang Kudupsari Palwaga. Dewi Sinta berhasil diboyong Ramawijaya kembali ke Ayodya. Rama menjadi raja di Ayodya menggantikan Barata adiknya. Mereka diberi karunia dua anak bernama Batlawa dan Kusiya. Herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Karna (2)

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Karna (2)
link : Karna (2)

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Karna (2) Karna, wayang kulit purwa koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing (foto: Sartono) Karna (2) Cerita selanjutnya mengenai diriku aku dapatkan dari Bapa Adirata seorang sais kereta kraton Hastinapura, sewaktu pemerintahan Prabu Kresna Dwipayana dan Prabu Pandudewanata. Pada suatu pagi, ketika Adirata sedang membasuh badannya di Sungai Gangga, ia terkejut melihat dari kejauhan sebuah benda yang berkilau-kilau. Tanpa pikir panjang Adirata berenang menyongsong benda tersebut. Lebih terkejut setelah diketahui bahwa pelet mimpi benda berujud peti kecil terbuka yang dinamakan gendaga tersebut berisi bayi mungil yang memakai pakaian perang yaitu Kotang Kerei Kaswargan, semacam baju Zirah dan Anting Mustika. Dengan raut muka berbinar-binar, Adirata memondong gendaga dan bergegas membawanya pulang.

Adirata menjadi tidak sabar untuk segera mengabarkan kabar sukacita ini kepada Rada isterinya. Bagaiakn kejatuhan rembulan sepasang suami isteri setengah baya tersebut mendapatkan bayi yang selama ini didamba. Apalagi bayi tersebut bukanlah bayi sembarangan, jika dilihat dari kedua benda yang melekat di tubuhnya dan perlengkapan yang disertakan. Adirata dan Rada merawat bayi yang ditemukan dengan ketulusan dan kasih sayang. Selain bernama Karna sesuai dengan tulisan yang disertakan, bayi tersebut kemudian diberi nama Wasusena karena waktu diketemukan memakai pakaian perang. Sedangkan orang-orang disekitarnya menyebut Karna dengan nama panggilan Radeya yang artinya anak dari Nyai Rada.

Karna tumbuh menjadi anak yang cerdas berani dan jujur. Adirata dan Nyai Rada bangga karenanya. Setelah menginjak dewasa, Karna sering berpetualang sendirian. Belajar ilmu ke sana-kemari. Ketika pada suatu waktu Karna lewat di Sokalima, ia kepengin sekali bergabung dengan para Kurawa dan para Pandawa untuk bersama-sama berguru kepada Durna. Tetapi keinginannya tidaklah mungkin kesampaian, dikarenakan Karna bukanlah termasuk golongan ksatria. Ia hanyalah anak seorang sais kereta. Anak seorang sais kereta pantasnya juga menjadi sais kereta. Pemahaman seperti itulah yang ada pada Adirata, maka kemudian diberikanlah sebuah kereta kuda agar dipakai Karna untuk belajar menjadi sais. Walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan gejolak jiwa yang ada,

Karna tidak menolaknya, malahan kereta kuda pemberian Adirata tersebut dijadikan alat untuk latihan perang-perangan. Usaha Karna untuk mendapatkan ilmu-ilmu tingkat tinggi tidak pernah berhenti hanya karena tidak diperkenankan bergabung menjadi satu perguruan dengan para ksatria Pandawa dan Kurawa. Karna tetap gigih berusaha untuk mendapatkan guru sakti yang tidak kalah jika dibandingkan dengan kesaktian Durna. Karena usahanya yang tak berkesudahan, Karna akhirnya menemukan guru sakti yang ahli bermain senjata Kapak dan senjata panah, yang bernama Rama Parasu. Namun dikarenakan Rama Parasu mempunyai dendam pribadi kepada seorang ksatria, dan tidak mau menerima murid seorang ksatria. Maka Karna menyamar menjadi seorang brahmana dan berguru kepada Rama Parasu. Dengan menyamar sebagai brahmana Karna diterima menjadi murid Rama Parasu. Ilmu-ilmu yang diajarkan diserapnya dengan cepat dan tuntas. Tidak lama kemudian Karna telah menjelma menjadi seorang remaja yang mempunyai ilmu tingkat tinggi, yang tidak kalah jika dibandingkan dengan ilmu para ksatria Pandawa dan Kurawa. herjaka HS

Figur Wayang Karna (2) Karna, wayang kulit purwa koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing (foto: Sartono) Karna (2) Cerita selanjutnya mengenai diriku aku dapatkan dari Bapa Adirata seorang sais kereta kraton Hastinapura, sewaktu pemerintahan Prabu Kresna Dwipayana dan Prabu Pandudewanata. Pada suatu pagi, ketika Adirata sedang membasuh badannya di Sungai Gangga, ia terkejut melihat dari kejauhan sebuah benda yang berkilau-kilau. Tanpa pikir panjang Adirata berenang menyongsong benda tersebut. Lebih terkejut setelah diketahui bahwa pelet mimpi benda berujud peti kecil terbuka yang dinamakan gendaga tersebut berisi bayi mungil yang memakai pakaian perang yaitu Kotang Kerei Kaswargan, semacam baju Zirah dan Anting Mustika. Dengan raut muka berbinar-binar, Adirata memondong gendaga dan bergegas membawanya pulang.

Adirata menjadi tidak sabar untuk segera mengabarkan kabar sukacita ini kepada Rada isterinya. Bagaiakn kejatuhan rembulan sepasang suami isteri setengah baya tersebut mendapatkan bayi yang selama ini didamba. Apalagi bayi tersebut bukanlah bayi sembarangan, jika dilihat dari kedua benda yang melekat di tubuhnya dan perlengkapan yang disertakan. Adirata dan Rada merawat bayi yang ditemukan dengan ketulusan dan kasih sayang. Selain bernama Karna sesuai dengan tulisan yang disertakan, bayi tersebut kemudian diberi nama Wasusena karena waktu diketemukan memakai pakaian perang. Sedangkan orang-orang disekitarnya menyebut Karna dengan nama panggilan Radeya yang artinya anak dari Nyai Rada.

Karna tumbuh menjadi anak yang cerdas berani dan jujur. Adirata dan Nyai Rada bangga karenanya. Setelah menginjak dewasa, Karna sering berpetualang sendirian. Belajar ilmu ke sana-kemari. Ketika pada suatu waktu Karna lewat di Sokalima, ia kepengin sekali bergabung dengan para Kurawa dan para Pandawa untuk bersama-sama berguru kepada Durna. Tetapi keinginannya tidaklah mungkin kesampaian, dikarenakan Karna bukanlah termasuk golongan ksatria. Ia hanyalah anak seorang sais kereta. Anak seorang sais kereta pantasnya juga menjadi sais kereta. Pemahaman seperti itulah yang ada pada Adirata, maka kemudian diberikanlah sebuah kereta kuda agar dipakai Karna untuk belajar menjadi sais. Walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan gejolak jiwa yang ada,

Karna tidak menolaknya, malahan kereta kuda pemberian Adirata tersebut dijadikan alat untuk latihan perang-perangan. Usaha Karna untuk mendapatkan ilmu-ilmu tingkat tinggi tidak pernah berhenti hanya karena tidak diperkenankan bergabung menjadi satu perguruan dengan para ksatria Pandawa dan Kurawa. Karna tetap gigih berusaha untuk mendapatkan guru sakti yang tidak kalah jika dibandingkan dengan kesaktian Durna. Karena usahanya yang tak berkesudahan, Karna akhirnya menemukan guru sakti yang ahli bermain senjata Kapak dan senjata panah, yang bernama Rama Parasu. Namun dikarenakan Rama Parasu mempunyai dendam pribadi kepada seorang ksatria, dan tidak mau menerima murid seorang ksatria. Maka Karna menyamar menjadi seorang brahmana dan berguru kepada Rama Parasu. Dengan menyamar sebagai brahmana Karna diterima menjadi murid Rama Parasu. Ilmu-ilmu yang diajarkan diserapnya dengan cepat dan tuntas. Tidak lama kemudian Karna telah menjelma menjadi seorang remaja yang mempunyai ilmu tingkat tinggi, yang tidak kalah jika dibandingkan dengan ilmu para ksatria Pandawa dan Kurawa. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Karna (1)

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Karna (1)
link : Karna (1)

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Karna (1) Karna, wayang kulit purwa koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing (foto: Sartono) Karna (1) Aku dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Dewi Kunthi atau Dewi Prita, anak Prabu Basukunti alias Kuntiboja raja negara Mandura. Menurut cerita yang aku terima dari ramanda Batara Surya, aku dilahirkan melalui telinga, oleh karenanya aku diberi nama Karna yang artinya telinga. Aku sendiri juga heran dan bertanya-tanya, benarkah aku dilahirkan melalui telinga Ibu Kunti? Sungguh ajaib. Bagaimana hal itu bisa terjadi? untuk memenuhi rasa ingin tahuku, Ramanda Batara Surya menceritakan peristiwa seputar kelahiranku. Diceritakan bahwasanya Ibu Kunthi adalah sosok wanita yang cantik jelita, cerdas, luwes, patuh dan sabar. Oleh karena kelebihannya, Eyang Prabu Basukunti mempercayakan kepada Ibu Kunti untuk melayani tamu-tamu negara. Pada suatu waktu Negara Mandura kedatangan tamu seorang Begawan sakti yang bernama Begawan Druwasa.

Ia sangat puas atas pelayanan Kunti. Sebagai tanda terimakasihnya Begawan Druwasa memberikan kepada Kunti sebuah mantra sakti yang bernama Aji Adityar Hedaya atau Aji Dipamanunggal atau disebut juga Aji Pameling. Mantra sakti tersebut berdayaguna untuk mendatangkan dewa sesuai dengan yang diinginkan. Selain hal-hal positif yang ada pada sosok Kunthi, ada hal-hal negatif yang dimilikinya, salah satunya adalah kebiasaan bangun siang. Pada suatu hari ketika Kunti bangun tidur, ia tidak dengan serta merta meninggalkan pembaringannya. Ia ingin merasakan keindahan dan merasakan kehangatan sinar matahari yang masuk di kamarnya. Melihat sinar matahari yang mengenai tubuhnya, Kunti membayangkan sosok Batara Surya, dewa rupawan yang menguasai matahari. Tiba-tiba Kunti teringat mantra sakti Aji Pameling pemberian Begawan Druwasa. Sebagai dara belia, ia tergoda untuk mencoba mengetrapkan ajian tersebut. Maka kemudian dibacanya mantra sakti tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada saat selesai membaca mantra Aji Pameling, seusai Kunti mengerdipkan matanya, tiba-tiba di tilamsari tempat Kunti berbaring telah hadir Dewa Surya, Dewa penguasa matahari. Sosok yang diangankan telah hadir disampingnya, tidak ada lagi yang membedakan antara angan dan kenyataan.

Ketika ke duanya hadir dalam waktu yang bersamaan, tidak ada lagi yang menghalangi, keduanya akan menjadi satu. Angan yang menguasai pikiran dan kenyataan yang menguasai raga saling berpuletan erat. Keduanya berada antara alam mimpi dan alam nyata. Namun pada kenyataan setelah kejadian tersebut Dewi Kunti mengandung. Atas kejadian tersebut Prabu Basukunti marah luar biasa. Ia memanggil Begawan Druwasa untuk meminta pertanggungjawabannya atas pemberian Aji Pameling kepada Kunti yan masih belia. Sesungguhnya yang dilakukan Begawan Druwasa tersebut untuk menolong Kunti. Karena menurut pesan gaib pelet birahi yang diterima Begawan Druwasa, bahwa pada suatu saat nanti Kunti sangat membutuhkan Aji Adityar Hedaya. Namun sayang belum tiba waktunya Kunti telah mencoba mantra aji Pameling kepada Dewa Surya. Begawan Druwasa tahu resikonya jika seorang dara belia mempunyai aji Pameling. Maka dari itu ia bertanggungjawab atas resiko yang terjadi. Maka ketika usia kandungan Kunti sudah berumur sembilan bulan lebih sepuluh hari, dengan kesaktiannya Begawan Druwasa membantu kelahiran bayi. Dengan mantra saktinya yang menyatakan bahwa Aji Adityar Hedaya yang pada mulanya masuk melalui telinga menuju ke angan Kunti, meresap di hati, di tubuh dan kemudian menggumpal menjadi sosok bayi, akan dikeluarkan melalui telinga pula. Itulah keajaiban.

Begawan Druwasa membopong kelahiran bayi yang keluar melalui lobang yang sama seperti ketika pada mulanya benih itu masuk. Dan dinamakan bayi itu Karna, yang berarti telinga. Upaya melahirkan bayi melalui telinga adalah perwujudan tanggung jawab Begawan Druwasa untuk memulihkan keperawanan Kunti, bahwa Kunti masih gadis, belum beranak. Maka keberadaan bayi tersebut dianggap aib, Oleh karena harus di buang dilarung ke sungai Gangga agar jauh meninggalkan negara Mandura, demikian perintah Prabu Basukunti. Sebelum Karna dihanyutkan di sungai, ada satu hal yang masih diingat oleh Kunthi bahwa bayi Karna memakai Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan pemberian Dewa Surya. Sejak bayi yang tidak berdosa tersebut dihanyutkan di sungai Gangga nama Karna sengaja dihapus dari negara Mandura. Terbukti Prabu Basukunti menggelar sayembara, bagi siapa saja yang dapat memenangkan sayembara berhak memboyong putri kedhaton Mandura yaitu Dewi Kunti. Herjaka HS

Figur Wayang Karna (1) Karna, wayang kulit purwa koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing (foto: Sartono) Karna (1) Aku dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Dewi Kunthi atau Dewi Prita, anak Prabu Basukunti alias Kuntiboja raja negara Mandura. Menurut cerita yang aku terima dari ramanda Batara Surya, aku dilahirkan melalui telinga, oleh karenanya aku diberi nama Karna yang artinya telinga. Aku sendiri juga heran dan bertanya-tanya, benarkah aku dilahirkan melalui telinga Ibu Kunti? Sungguh ajaib. Bagaimana hal itu bisa terjadi? untuk memenuhi rasa ingin tahuku, Ramanda Batara Surya menceritakan peristiwa seputar kelahiranku. Diceritakan bahwasanya Ibu Kunthi adalah sosok wanita yang cantik jelita, cerdas, luwes, patuh dan sabar. Oleh karena kelebihannya, Eyang Prabu Basukunti mempercayakan kepada Ibu Kunti untuk melayani tamu-tamu negara. Pada suatu waktu Negara Mandura kedatangan tamu seorang Begawan sakti yang bernama Begawan Druwasa.

Ia sangat puas atas pelayanan Kunti. Sebagai tanda terimakasihnya Begawan Druwasa memberikan kepada Kunti sebuah mantra sakti yang bernama Aji Adityar Hedaya atau Aji Dipamanunggal atau disebut juga Aji Pameling. Mantra sakti tersebut berdayaguna untuk mendatangkan dewa sesuai dengan yang diinginkan. Selain hal-hal positif yang ada pada sosok Kunthi, ada hal-hal negatif yang dimilikinya, salah satunya adalah kebiasaan bangun siang. Pada suatu hari ketika Kunti bangun tidur, ia tidak dengan serta merta meninggalkan pembaringannya. Ia ingin merasakan keindahan dan merasakan kehangatan sinar matahari yang masuk di kamarnya. Melihat sinar matahari yang mengenai tubuhnya, Kunti membayangkan sosok Batara Surya, dewa rupawan yang menguasai matahari. Tiba-tiba Kunti teringat mantra sakti Aji Pameling pemberian Begawan Druwasa. Sebagai dara belia, ia tergoda untuk mencoba mengetrapkan ajian tersebut. Maka kemudian dibacanya mantra sakti tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada saat selesai membaca mantra Aji Pameling, seusai Kunti mengerdipkan matanya, tiba-tiba di tilamsari tempat Kunti berbaring telah hadir Dewa Surya, Dewa penguasa matahari. Sosok yang diangankan telah hadir disampingnya, tidak ada lagi yang membedakan antara angan dan kenyataan.

Ketika ke duanya hadir dalam waktu yang bersamaan, tidak ada lagi yang menghalangi, keduanya akan menjadi satu. Angan yang menguasai pikiran dan kenyataan yang menguasai raga saling berpuletan erat. Keduanya berada antara alam mimpi dan alam nyata. Namun pada kenyataan setelah kejadian tersebut Dewi Kunti mengandung. Atas kejadian tersebut Prabu Basukunti marah luar biasa. Ia memanggil Begawan Druwasa untuk meminta pertanggungjawabannya atas pemberian Aji Pameling kepada Kunti yan masih belia. Sesungguhnya yang dilakukan Begawan Druwasa tersebut untuk menolong Kunti. Karena menurut pesan gaib pelet birahi yang diterima Begawan Druwasa, bahwa pada suatu saat nanti Kunti sangat membutuhkan Aji Adityar Hedaya. Namun sayang belum tiba waktunya Kunti telah mencoba mantra aji Pameling kepada Dewa Surya. Begawan Druwasa tahu resikonya jika seorang dara belia mempunyai aji Pameling. Maka dari itu ia bertanggungjawab atas resiko yang terjadi. Maka ketika usia kandungan Kunti sudah berumur sembilan bulan lebih sepuluh hari, dengan kesaktiannya Begawan Druwasa membantu kelahiran bayi. Dengan mantra saktinya yang menyatakan bahwa Aji Adityar Hedaya yang pada mulanya masuk melalui telinga menuju ke angan Kunti, meresap di hati, di tubuh dan kemudian menggumpal menjadi sosok bayi, akan dikeluarkan melalui telinga pula. Itulah keajaiban.

Begawan Druwasa membopong kelahiran bayi yang keluar melalui lobang yang sama seperti ketika pada mulanya benih itu masuk. Dan dinamakan bayi itu Karna, yang berarti telinga. Upaya melahirkan bayi melalui telinga adalah perwujudan tanggung jawab Begawan Druwasa untuk memulihkan keperawanan Kunti, bahwa Kunti masih gadis, belum beranak. Maka keberadaan bayi tersebut dianggap aib, Oleh karena harus di buang dilarung ke sungai Gangga agar jauh meninggalkan negara Mandura, demikian perintah Prabu Basukunti. Sebelum Karna dihanyutkan di sungai, ada satu hal yang masih diingat oleh Kunthi bahwa bayi Karna memakai Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan pemberian Dewa Surya. Sejak bayi yang tidak berdosa tersebut dihanyutkan di sungai Gangga nama Karna sengaja dihapus dari negara Mandura. Terbukti Prabu Basukunti menggelar sayembara, bagi siapa saja yang dapat memenangkan sayembara berhak memboyong putri kedhaton Mandura yaitu Dewi Kunti. Herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Jayadrata

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Jayadrata
link : Jayadrata

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Jayadrata Jayadrata dalam bentuk wayang kulit, karya dari Kaligesing Purworejo. Koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Jayadrata Kelahiran Jayadrata berawal dari bungkus bayi Bima yang dipecah oleh Gajah Sena atas bantuan Dewa Bayu. Saat bungkus pecah, daging bungkus tersebut terbang terbawa angin oleh karena daya dorong Dewa Bayu yang adalah dewanya angin, sampai di samodera dan jatuh di pangkuan Begawan Sapwani yang sedang bertapa untuk memohon anak. Betapa gembiranya hati Begawan Sapwani, ketika daging bungkus bayi Bima berubah menjadi bayi laki-laki. Bayi tersebut diasuhnya dan diberi nama Bambang Segara, karena didapat di pinggir Segara atau Samodra.

Setelah dewasa Bambang Segara mendapat tambahan nama Jayadrata dan tinggal di kasatriyan Banakeling. Jayadrata adalah ksatria yang sakti madraguna. Ia kemudian menjadi raja di negeri Sindu Kalangan dan bergelar Tirtanata, yang artinya raja air. Pernah suatu ketika, Tirtanata gelisah dengan dirinya, dan ingin mencari pelet jarak jauh saudaranya yang bernama Bima. Begawan Sapwani menyarankan agar Tirtanata pergi ke negara Hastina karena Bima ada di negeri itu. Sesampainya di Hastina, Tirtanata tidak ketemu dengan Bima, karena Bima dan para Pandawa hidup dihutan sejak peristiwa Bale Sigala-gala. Tirtanata bertemu dengan Kurawa dan dibujuk oleh Sengkuni agar bergabung dengan Kurawa. Jika Tirtanata mau bergabung dengan Kurawa,

Duryudana menjanjikan sebuah kedudukkan di Negara Hastina. Tidak hanya kedudukkan, bahkan Tirtanata dikawinkan dengan Dewi Dursilawati adik Duryudana yang bungsu. Maka sejak saat itulah Tirtanata menjadi sekutu Kurawa. Pada saat perang Baratayuda, Tirtanata juga menjadi senapati perang pihak Hastina. Ia berhasil membunuh anak kesayangan Arjuna, yaitu Abimanyu. Arjuna kemudian dendam, dan bersumpah untuk membunuh Tirtanata sebelum matahari terbenam. Jika sampai dengan matahari terbenam belum dapat membunuh Tirtanata alias Jayadrata, Arjuna akan bunuh diri. Sumpah itu didengar oleh para Kurawa. Maka mereka berupaya menyembunyikan Jayadrata. Begawan Sapwani tidak tinggal diam. Ia merekayasa seribu Jayadrata tiruan untuk mengecoh Arjuna. Melihat banyaknya Jayadrata di medan perang Arjuna kebingungan untuk melepaskan panahnya. Kresna mengetahui semuanya. Maka ditutuplah mata hari yang belum waktunya terbenam dengan senjata Cakra. Medan perang menjadi gelap. Kurawa mengira bahwa hari sudah malam, sehingga Arjuna akan mati membakar diri sesuai dengan sumpahnya karena belum dapat membunuh Jayadrata. Oleh karenanya para Kurawa keluar ke medan perang, termasuk Jayadrata yang asli, untuk melihat Arjuna membakar diri.

Pada saat itulah Kresna menunjukkan kepada Arjuna Jayadrata yang asli berada. Maka dilepaslah panah ke leher Tirtanata hingga putus dan kepalanya jatuh ke tanah dan menggelinding di depan Bagawan Sapwani. Bersamaan dengan itu Kresna membuka tutup matahari, dan medan perang pun menjadi terang kembali, karena hari masih sore. Melihat anaknya tinggal kepala Begawan Sapwani menangis seperti anak kecil. Ia tidak terima atas perlakuan Arjuna terhadap anaknya. Maka kemudian mulut Jayadrata diberi pusaka berupa Cis semacam tombak pendek. Dengan cis dimulutnya Jayadrata mengamuk. Semua anak Arjuna mati terkena senjata cis. Melihat kepala Jayadrata memakan banyak korban Bima segera menghabisi kepala Jayadrata yang masih bernyawa dengan Gada Rujak Polo. Jayadrata mati meninggalkan satu istri yaitu Dewi Dursilawati dan dua anak yang bernama Arya Wirata dan Arya Surata. herjaka HS

Figur Wayang Jayadrata Jayadrata dalam bentuk wayang kulit, karya dari Kaligesing Purworejo. Koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Jayadrata Kelahiran Jayadrata berawal dari bungkus bayi Bima yang dipecah oleh Gajah Sena atas bantuan Dewa Bayu. Saat bungkus pecah, daging bungkus tersebut terbang terbawa angin oleh karena daya dorong Dewa Bayu yang adalah dewanya angin, sampai di samodera dan jatuh di pangkuan Begawan Sapwani yang sedang bertapa untuk memohon anak. Betapa gembiranya hati Begawan Sapwani, ketika daging bungkus bayi Bima berubah menjadi bayi laki-laki. Bayi tersebut diasuhnya dan diberi nama Bambang Segara, karena didapat di pinggir Segara atau Samodra.

Setelah dewasa Bambang Segara mendapat tambahan nama Jayadrata dan tinggal di kasatriyan Banakeling. Jayadrata adalah ksatria yang sakti madraguna. Ia kemudian menjadi raja di negeri Sindu Kalangan dan bergelar Tirtanata, yang artinya raja air. Pernah suatu ketika, Tirtanata gelisah dengan dirinya, dan ingin mencari pelet jarak jauh saudaranya yang bernama Bima. Begawan Sapwani menyarankan agar Tirtanata pergi ke negara Hastina karena Bima ada di negeri itu. Sesampainya di Hastina, Tirtanata tidak ketemu dengan Bima, karena Bima dan para Pandawa hidup dihutan sejak peristiwa Bale Sigala-gala. Tirtanata bertemu dengan Kurawa dan dibujuk oleh Sengkuni agar bergabung dengan Kurawa. Jika Tirtanata mau bergabung dengan Kurawa,

Duryudana menjanjikan sebuah kedudukkan di Negara Hastina. Tidak hanya kedudukkan, bahkan Tirtanata dikawinkan dengan Dewi Dursilawati adik Duryudana yang bungsu. Maka sejak saat itulah Tirtanata menjadi sekutu Kurawa. Pada saat perang Baratayuda, Tirtanata juga menjadi senapati perang pihak Hastina. Ia berhasil membunuh anak kesayangan Arjuna, yaitu Abimanyu. Arjuna kemudian dendam, dan bersumpah untuk membunuh Tirtanata sebelum matahari terbenam. Jika sampai dengan matahari terbenam belum dapat membunuh Tirtanata alias Jayadrata, Arjuna akan bunuh diri. Sumpah itu didengar oleh para Kurawa. Maka mereka berupaya menyembunyikan Jayadrata. Begawan Sapwani tidak tinggal diam. Ia merekayasa seribu Jayadrata tiruan untuk mengecoh Arjuna. Melihat banyaknya Jayadrata di medan perang Arjuna kebingungan untuk melepaskan panahnya. Kresna mengetahui semuanya. Maka ditutuplah mata hari yang belum waktunya terbenam dengan senjata Cakra. Medan perang menjadi gelap. Kurawa mengira bahwa hari sudah malam, sehingga Arjuna akan mati membakar diri sesuai dengan sumpahnya karena belum dapat membunuh Jayadrata. Oleh karenanya para Kurawa keluar ke medan perang, termasuk Jayadrata yang asli, untuk melihat Arjuna membakar diri.

Pada saat itulah Kresna menunjukkan kepada Arjuna Jayadrata yang asli berada. Maka dilepaslah panah ke leher Tirtanata hingga putus dan kepalanya jatuh ke tanah dan menggelinding di depan Bagawan Sapwani. Bersamaan dengan itu Kresna membuka tutup matahari, dan medan perang pun menjadi terang kembali, karena hari masih sore. Melihat anaknya tinggal kepala Begawan Sapwani menangis seperti anak kecil. Ia tidak terima atas perlakuan Arjuna terhadap anaknya. Maka kemudian mulut Jayadrata diberi pusaka berupa Cis semacam tombak pendek. Dengan cis dimulutnya Jayadrata mengamuk. Semua anak Arjuna mati terkena senjata cis. Melihat kepala Jayadrata memakan banyak korban Bima segera menghabisi kepala Jayadrata yang masih bernyawa dengan Gada Rujak Polo. Jayadrata mati meninggalkan satu istri yaitu Dewi Dursilawati dan dua anak yang bernama Arya Wirata dan Arya Surata. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Sukrasana

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Sukrasana
link : Sukrasana

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Sukrasana Sukrasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono) Sukrasana �Akang aku elu akang� demikian kata yang sering diucapkan dengan logat cedal oleh Sukrasana kepada Sumantri kakaknya, yang artinya �kakang aku ikut kakang.� Kata tersebut menggambarkan bahwa Sukrasanan tidak mau berpisah kepada Kakaknya. Ke mana pun Sumantri pergi, Sukrasana selalu ingin ikut. Sukrasana Sumantri adalah dua bersaudara anak Begawan Suwandageni dari pertapaan Girisekar. Kedua kakak beradik satu ayah dan satu ibu itu mempunyai ciri-ciri yang berlawanan. Secara fisik,

Sukrasana berbadan pendek dan cebol, berwajah raksasa yang jelek dan menakutkan. Sedangkan Sumantri berwajah tampan dan gagah. Namun walaupun wajahnya buruk, namun Sukrasana sangat sakti, baik budi pekertinya dan penuh pelet tanpa puasa welas-asih, tidak seperti Sumantri yang merasa dirinya sakti dan tampan. Pada suatu pagi, ketika Sukrasana bangun, seperti biasanya, pertama-tama yang ia cari adalah Sumantri. Namun pagi itu ia tidak mendapatkannya. Maka kemudian dicarilah sang kakak yang amat dicinta itu.

Begawan Suwandageni tidak sampai hati melihat Sukrasana yang kebingungan mencari kakaknya, maka kemudian dikatakanlah bahwa kakaknya pergi meninggalkan Sukrasana, untuk mengabdikan diri ke kerajaan Maespati. �Akang aku elu akang� Sukrasana menyusul kakaknya ke Kerajaan Maespati. Di sana Sukrasana mendapatkan Sumantri yang sedang bersedih karena telah melakukan kesalahan terhadap raja Maespati dan dipecat dari jabatan prajurit. Sang Raja Maespati Prabu Arjuna Sasrabahu bersabda bahwa satu-satunya jalan agar Sumantri dapat kembali menjadi prajurit, yaitu dengan memindahkan Taman Sriwedari di Kahyangan Utarasegara ke Maespati. Tugas tersebut teramat berat, Sumantri merasa kesulitan untuk melakukannya. Dalam keadaan putusasa, Sukrasana datang dan siap menolong Sumantri, dengan sebuah permintaan agar Sumantri kakaknya tidak lagi meninggalkan Sukrasana. Dan Sumantri menyanggupinya. Dengan kesaktian yang dimiliki Sukrasana dan bantuan para dewa,

Taman Sriwedari dapat berpindah tempat, dari Kahyangan Utarasegara ke Maespati, tanpa satu pun daun yang jatuh. Sumantri sangat senang, demikian pula dengan Prabu Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati permaisuri raja. Taman tersebut kemudian dijadikan tempat bersenang-senang oleh permaisuri raja dan para putri-putri kerajaan. Pada saat mereka bercengkrama di taman, tiba-tiba mereka pada menjerit ketakutan dan berhamburan keluar taman, sambil berterik �Ada hantu� Sang Raja memerintahkan agar Sumantri mengusir hantu itu. Sumantri bergegas menuju taman dengan membawa senjata panah yang siap dibidikan, untuk mengusir hantu yang telah membuat onar di Taman Sriwedari. Sesampaianya di taman ia menjumpai yang dimaksud dengan hantu adalah Sukrasana adiknya. �akang aku elu akang� herjaka HS

Figur Wayang Sukrasana Sukrasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono) Sukrasana �Akang aku elu akang� demikian kata yang sering diucapkan dengan logat cedal oleh Sukrasana kepada Sumantri kakaknya, yang artinya �kakang aku ikut kakang.� Kata tersebut menggambarkan bahwa Sukrasanan tidak mau berpisah kepada Kakaknya. Ke mana pun Sumantri pergi, Sukrasana selalu ingin ikut. Sukrasana Sumantri adalah dua bersaudara anak Begawan Suwandageni dari pertapaan Girisekar. Kedua kakak beradik satu ayah dan satu ibu itu mempunyai ciri-ciri yang berlawanan. Secara fisik,

Sukrasana berbadan pendek dan cebol, berwajah raksasa yang jelek dan menakutkan. Sedangkan Sumantri berwajah tampan dan gagah. Namun walaupun wajahnya buruk, namun Sukrasana sangat sakti, baik budi pekertinya dan penuh pelet tanpa puasa welas-asih, tidak seperti Sumantri yang merasa dirinya sakti dan tampan. Pada suatu pagi, ketika Sukrasana bangun, seperti biasanya, pertama-tama yang ia cari adalah Sumantri. Namun pagi itu ia tidak mendapatkannya. Maka kemudian dicarilah sang kakak yang amat dicinta itu.

Begawan Suwandageni tidak sampai hati melihat Sukrasana yang kebingungan mencari kakaknya, maka kemudian dikatakanlah bahwa kakaknya pergi meninggalkan Sukrasana, untuk mengabdikan diri ke kerajaan Maespati. �Akang aku elu akang� Sukrasana menyusul kakaknya ke Kerajaan Maespati. Di sana Sukrasana mendapatkan Sumantri yang sedang bersedih karena telah melakukan kesalahan terhadap raja Maespati dan dipecat dari jabatan prajurit. Sang Raja Maespati Prabu Arjuna Sasrabahu bersabda bahwa satu-satunya jalan agar Sumantri dapat kembali menjadi prajurit, yaitu dengan memindahkan Taman Sriwedari di Kahyangan Utarasegara ke Maespati. Tugas tersebut teramat berat, Sumantri merasa kesulitan untuk melakukannya. Dalam keadaan putusasa, Sukrasana datang dan siap menolong Sumantri, dengan sebuah permintaan agar Sumantri kakaknya tidak lagi meninggalkan Sukrasana. Dan Sumantri menyanggupinya. Dengan kesaktian yang dimiliki Sukrasana dan bantuan para dewa,

Taman Sriwedari dapat berpindah tempat, dari Kahyangan Utarasegara ke Maespati, tanpa satu pun daun yang jatuh. Sumantri sangat senang, demikian pula dengan Prabu Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati permaisuri raja. Taman tersebut kemudian dijadikan tempat bersenang-senang oleh permaisuri raja dan para putri-putri kerajaan. Pada saat mereka bercengkrama di taman, tiba-tiba mereka pada menjerit ketakutan dan berhamburan keluar taman, sambil berterik �Ada hantu� Sang Raja memerintahkan agar Sumantri mengusir hantu itu. Sumantri bergegas menuju taman dengan membawa senjata panah yang siap dibidikan, untuk mengusir hantu yang telah membuat onar di Taman Sriwedari. Sesampaianya di taman ia menjumpai yang dimaksud dengan hantu adalah Sukrasana adiknya. �akang aku elu akang� herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Togog

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Togog
link : Togog

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Togog Togog dalam penggambaran wayang kulit purwa, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Togog Togog digambarkan sebagai seorang yang bertubuh pendek dan gemuk. Mulutnya lebar dan menjorok panjang, bentuknya seperti mulut bunglon. Pada waktu kecil hingga remaja nama Togog adalah Sang Hyang Tejamantri atau Sang Hyang Antaga atau juga Sang Hyang Puguh. Ia berparas tampan, anak dari pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Togog Tejamantri mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Kisah kelahiran Togog berawal dari sebuah telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati.

Kemudian telur itu dipuja oleh Sang Hyang Tunggal menjadi tiga laki-laki tampan. Kelahiran laki-laki tampan yang nomor satu berasal dari kulit telur dan diberi nama Sang Hyang Tejamantri. Laki-laki tampan yang nomor dua lahir berasal dari putih telur dan diberi nama Sang Hyang Ismaya dan laki-laki tampan nomor tiga lahir berasal dari kuning telur dan diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Dari kecil hingga remaja mereka bertiga hidup rukun. Namun ilmu pelet birahi setelah dewasa masing-masing dari mereka menginginkan menjadi penguasa tertinggi di Kahyangan. Ketiga anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati tersebut saling berebut tahta.

Tidak ada yang mau mengalah. Untuk mengatasi hal itu, Hyang Tunggal membuat sayembara, barang siapa dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera memuntahkannya kembali itulah yang berhak menjadi penguasa Kahyangan. Sang Hyang Tejamantri sebagai putra tertua mencoba terlebih dahulu menelan gunung Saloka. Namun hingga mulutnya robek dan badannya rusak, Sang Hyang Tejamantri gagal dalam sayembara tersebut. Oleh karena gagal menjadi penguasa di Kahyangan, Sang Hyang Tejamantri diperintahkan turun ke dunia sebagai pamomong raja. Sejak saat itu ia dikenal dengan nama Togog. Tugasnya adalah sebagai penasehat dan mengingatkan raja yang menjadi momongannya agar senantiasa menghindari tindak kejahatan yang merugikan orang lain. Namun sayang, tidak ada satu raja pun yang mau mendengar dan menuruti nasihat Togog untuk menanggalkan kejahatannya dan beralih pada jalan yang diberkati. Oleh karenanya sampai sekarang Togog dikenal sebagai pamomong raja-raja yang berwatak jahat herjaka HS

Figur Wayang Togog Togog dalam penggambaran wayang kulit purwa, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Togog Togog digambarkan sebagai seorang yang bertubuh pendek dan gemuk. Mulutnya lebar dan menjorok panjang, bentuknya seperti mulut bunglon. Pada waktu kecil hingga remaja nama Togog adalah Sang Hyang Tejamantri atau Sang Hyang Antaga atau juga Sang Hyang Puguh. Ia berparas tampan, anak dari pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Togog Tejamantri mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Kisah kelahiran Togog berawal dari sebuah telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati.

Kemudian telur itu dipuja oleh Sang Hyang Tunggal menjadi tiga laki-laki tampan. Kelahiran laki-laki tampan yang nomor satu berasal dari kulit telur dan diberi nama Sang Hyang Tejamantri. Laki-laki tampan yang nomor dua lahir berasal dari putih telur dan diberi nama Sang Hyang Ismaya dan laki-laki tampan nomor tiga lahir berasal dari kuning telur dan diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Dari kecil hingga remaja mereka bertiga hidup rukun. Namun ilmu pelet birahi setelah dewasa masing-masing dari mereka menginginkan menjadi penguasa tertinggi di Kahyangan. Ketiga anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati tersebut saling berebut tahta.

Tidak ada yang mau mengalah. Untuk mengatasi hal itu, Hyang Tunggal membuat sayembara, barang siapa dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera memuntahkannya kembali itulah yang berhak menjadi penguasa Kahyangan. Sang Hyang Tejamantri sebagai putra tertua mencoba terlebih dahulu menelan gunung Saloka. Namun hingga mulutnya robek dan badannya rusak, Sang Hyang Tejamantri gagal dalam sayembara tersebut. Oleh karena gagal menjadi penguasa di Kahyangan, Sang Hyang Tejamantri diperintahkan turun ke dunia sebagai pamomong raja. Sejak saat itu ia dikenal dengan nama Togog. Tugasnya adalah sebagai penasehat dan mengingatkan raja yang menjadi momongannya agar senantiasa menghindari tindak kejahatan yang merugikan orang lain. Namun sayang, tidak ada satu raja pun yang mau mendengar dan menuruti nasihat Togog untuk menanggalkan kejahatannya dan beralih pada jalan yang diberkati. Oleh karenanya sampai sekarang Togog dikenal sebagai pamomong raja-raja yang berwatak jahat herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Abimanyu (1)

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Abimanyu (1)
link : Abimanyu (1)

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Abimanyu (1) Wayang kulit purwa tokoh Abimanyu koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing Purworejo (foto: Sartono) Abimanyu (1) Abimanyu lahir dari Dewi Sembadara, isteri Arjuna. Diantara anak-anak Arjuna, Abimanyu anak yang paling disayangi. Tidak hanya disayangi oleh Arjuna dan Sembadra sebagai orang tuanya, tetapi juga disayangi oleh kerabat Pandawa. Ia disiapkan menjadi raja, dikarenakan Abimanyu adalah satu-satunya keturunan Pandawa yang mendapat wahyu raja yaitu wahyu Cakraningrat. Abimanyu digambarkan sebagai satria yang tampan, sakti, pemberani, pendiam tetapi mudah marah dan ringan tangan. Jika sedang marah tidak ada yang berani mendekat, karena sangat berbahaya.

Oleh sebab itu ia dinamakan Abimanyu yang artinya Abi = dekat dan manyu = marah. Ketika masih remaja ia pernah membela dan melindungi ibunya dari ancaman Prabu Angkawijaya raja negara Plangkawati yang ingin memperisteri Dewi Sembadra. Abimanyu berhasil mengalahkan Prabu Angkawijaya. Sejak saat itu kerajaan Plangkawati dikuasai oleh Abimanyu. Rakyat Plangkawati menganggap Abimanyu sebagai ilmu pelet jarak jauh pengganti Prabu Angkawijaya. Oleh karenanya mereka menyebut Abimanyu dengan nama Angkawijaya. Setelah dewasa Abimanyu menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prabu Kresna. Namun sayang Siti Sundari mandul sehingga tidak mempunyai keturunan.

Prabu Kresna merasa ikut bersalah atas perkawinan Abimanyu dan Angkawijaya yang ternyata anaknya tidak dapat mengandung dan melahirkan benih raja dari Abimanyu. Karena pada mulanya Kresna telah merekayasa perkawinan antara Abimanyu dengan Siti Sundari agar kelak anak keturunannya Siti Sundari dapat menjadi raja di tanah Jawa. Untuk menebus kesalahannya Kresna menganjurkan agar Abimanyu memperisteri Dewi Utari yang mempunyai wahyu ratu yaitu wahyu Widayat. Maka kemudian ketika ada sayembara di negara Wirata, Abimanyu disarankan mengikutinya. Sayembara yang digelar Prabu Matswapati raja Wirata tersebut adalah barang siapa kuat menggendhong Dewi Utari putri raja Prabu Matswapati, berhak memperisteri Dewi Utari. Ribuan peserta mengikuti sayembara tersebut, tetapi tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari.

Hal tersebut dikarenakan Dewi Utari telah mendapatkan wahyu Widayat, yang adalah wahyu ratu. Satu-satunya orang yang kuat menggendong wahyu Widayat yang telah manuksma atau menjadi satu raga dan suksma dengan Dewi Utari adalah wahyu Cakraningrat yang telah manuksma di dalam diri Abimanyu. Maka sayembara dimenangkan oleh Abimanyu. Wahyu Widayat bersatu dengan wahyu Cakraningrat, Utari bersatu dengan Abimanyu dan melahirkan Parikesit yang kelak menjadi raja Hastina sesudah perang Baratayuda. herjaka HS

Figur Wayang Abimanyu (1) Wayang kulit purwa tokoh Abimanyu koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing Purworejo (foto: Sartono) Abimanyu (1) Abimanyu lahir dari Dewi Sembadara, isteri Arjuna. Diantara anak-anak Arjuna, Abimanyu anak yang paling disayangi. Tidak hanya disayangi oleh Arjuna dan Sembadra sebagai orang tuanya, tetapi juga disayangi oleh kerabat Pandawa. Ia disiapkan menjadi raja, dikarenakan Abimanyu adalah satu-satunya keturunan Pandawa yang mendapat wahyu raja yaitu wahyu Cakraningrat. Abimanyu digambarkan sebagai satria yang tampan, sakti, pemberani, pendiam tetapi mudah marah dan ringan tangan. Jika sedang marah tidak ada yang berani mendekat, karena sangat berbahaya.

Oleh sebab itu ia dinamakan Abimanyu yang artinya Abi = dekat dan manyu = marah. Ketika masih remaja ia pernah membela dan melindungi ibunya dari ancaman Prabu Angkawijaya raja negara Plangkawati yang ingin memperisteri Dewi Sembadra. Abimanyu berhasil mengalahkan Prabu Angkawijaya. Sejak saat itu kerajaan Plangkawati dikuasai oleh Abimanyu. Rakyat Plangkawati menganggap Abimanyu sebagai ilmu pelet jarak jauh pengganti Prabu Angkawijaya. Oleh karenanya mereka menyebut Abimanyu dengan nama Angkawijaya. Setelah dewasa Abimanyu menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prabu Kresna. Namun sayang Siti Sundari mandul sehingga tidak mempunyai keturunan.

Prabu Kresna merasa ikut bersalah atas perkawinan Abimanyu dan Angkawijaya yang ternyata anaknya tidak dapat mengandung dan melahirkan benih raja dari Abimanyu. Karena pada mulanya Kresna telah merekayasa perkawinan antara Abimanyu dengan Siti Sundari agar kelak anak keturunannya Siti Sundari dapat menjadi raja di tanah Jawa. Untuk menebus kesalahannya Kresna menganjurkan agar Abimanyu memperisteri Dewi Utari yang mempunyai wahyu ratu yaitu wahyu Widayat. Maka kemudian ketika ada sayembara di negara Wirata, Abimanyu disarankan mengikutinya. Sayembara yang digelar Prabu Matswapati raja Wirata tersebut adalah barang siapa kuat menggendhong Dewi Utari putri raja Prabu Matswapati, berhak memperisteri Dewi Utari. Ribuan peserta mengikuti sayembara tersebut, tetapi tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari.

Hal tersebut dikarenakan Dewi Utari telah mendapatkan wahyu Widayat, yang adalah wahyu ratu. Satu-satunya orang yang kuat menggendong wahyu Widayat yang telah manuksma atau menjadi satu raga dan suksma dengan Dewi Utari adalah wahyu Cakraningrat yang telah manuksma di dalam diri Abimanyu. Maka sayembara dimenangkan oleh Abimanyu. Wahyu Widayat bersatu dengan wahyu Cakraningrat, Utari bersatu dengan Abimanyu dan melahirkan Parikesit yang kelak menjadi raja Hastina sesudah perang Baratayuda. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Semar

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Semar
link : Semar

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Semar Semar dalam penggambaran wayang kulit purwa,buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Semar Pada mulanya Semar adalah dewa berparas tampan, bernama Sang Hyang Ismaya. Ia mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Sang Hyang Tejamantri dan Sang Hyang Manikmaya. Kisah kelahiran Semar berawal dari sebuah telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati. Telur tersebut kemudian dipuja oleh Sang Hyang Tunggal. Kulit telur menjadi anak laki-laki tampan yang lahir sulung dan diberi nama Sang Hyang Tejamantri. Disusul oleh kelahiran anak kedua yang berasal dari putih telur yang diberi nama Sang Hyang Ismaya. Sedangkan anak laki-laki tampan nomor tiga berasal dari kuning telur dan diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Ketiga laki-laki anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati tersebut setelah dewasa saling berebut kekuasaan di Kahyangan.

Untuk mengambil keputusan siapa yang berhak menjadi penguasa tertinggi di Kahyangan, Sang Hyang Tunggal menggelar sayembara. Barang siapa dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera memuntahkannya kembali akan di jadikan penguasa tertinggi di kahyangan. Sang Hyang Ismaya berhasil menelah gunung Saloka tetapi tidak berhasil memuntahkan kembali, akibatnya Sang Hyang Ismaya yang sebelumnya tampan berubah wujud menjadi gemuk bulat, pendek, hitam dan berparas jelek. Karena gagal memenangkan ilmu pelet tanpa puasa sayembara, Sang Hyang Ismaya tidak mendapat kekuasaan di kahyangan, ia diperintahkan turun ke dunia sebagai pamomong para ksatria dan bertempat tinggal di Karang Kadempel atau Karang Kabolotan.

Sejak menjadi pamomong, ia tidak pernah lagi disebut-sebut sebagai dewa dengan nama Sang Hyang Ismaya. Semuanya tersamarkan di dalam tugasnya sebagai pamomong atau panakawan. Ia dipanggil dengan nama Semar, dari kata samar atau tidak jelas. Nama lain dari Semar adalah Badranaya yang artinya rembulan, dikarenakan badannya bulat seperti rembulan. Perkawinannya dengan Dewi Kanestren, Semar mempunyai 10 orang anak yaitu: 1. Batara Bongkokan, 2. Batara Patuk, 3. Batara Temburu, 4. Batara Wrehaspati, 5. Batara Yamadipati, 6. Batara Surya, 7. Batara Candra, 8. Batara Kwera, 9. Batara Kamajaya dan 10. Dewi Darmanastiti. Tugas Semar yang terutama dan utama adalah mengantar ksatria yang diemongnya untuk mendapat wahyu. Wahyu yang berdaya guna untuk memayu hayuning bawana. herjaka HS

Figur Wayang Semar Semar dalam penggambaran wayang kulit purwa,buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Semar Pada mulanya Semar adalah dewa berparas tampan, bernama Sang Hyang Ismaya. Ia mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Sang Hyang Tejamantri dan Sang Hyang Manikmaya. Kisah kelahiran Semar berawal dari sebuah telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati. Telur tersebut kemudian dipuja oleh Sang Hyang Tunggal. Kulit telur menjadi anak laki-laki tampan yang lahir sulung dan diberi nama Sang Hyang Tejamantri. Disusul oleh kelahiran anak kedua yang berasal dari putih telur yang diberi nama Sang Hyang Ismaya. Sedangkan anak laki-laki tampan nomor tiga berasal dari kuning telur dan diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Ketiga laki-laki anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati tersebut setelah dewasa saling berebut kekuasaan di Kahyangan.

Untuk mengambil keputusan siapa yang berhak menjadi penguasa tertinggi di Kahyangan, Sang Hyang Tunggal menggelar sayembara. Barang siapa dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera memuntahkannya kembali akan di jadikan penguasa tertinggi di kahyangan. Sang Hyang Ismaya berhasil menelah gunung Saloka tetapi tidak berhasil memuntahkan kembali, akibatnya Sang Hyang Ismaya yang sebelumnya tampan berubah wujud menjadi gemuk bulat, pendek, hitam dan berparas jelek. Karena gagal memenangkan ilmu pelet tanpa puasa sayembara, Sang Hyang Ismaya tidak mendapat kekuasaan di kahyangan, ia diperintahkan turun ke dunia sebagai pamomong para ksatria dan bertempat tinggal di Karang Kadempel atau Karang Kabolotan.

Sejak menjadi pamomong, ia tidak pernah lagi disebut-sebut sebagai dewa dengan nama Sang Hyang Ismaya. Semuanya tersamarkan di dalam tugasnya sebagai pamomong atau panakawan. Ia dipanggil dengan nama Semar, dari kata samar atau tidak jelas. Nama lain dari Semar adalah Badranaya yang artinya rembulan, dikarenakan badannya bulat seperti rembulan. Perkawinannya dengan Dewi Kanestren, Semar mempunyai 10 orang anak yaitu: 1. Batara Bongkokan, 2. Batara Patuk, 3. Batara Temburu, 4. Batara Wrehaspati, 5. Batara Yamadipati, 6. Batara Surya, 7. Batara Candra, 8. Batara Kwera, 9. Batara Kamajaya dan 10. Dewi Darmanastiti. Tugas Semar yang terutama dan utama adalah mengantar ksatria yang diemongnya untuk mendapat wahyu. Wahyu yang berdaya guna untuk memayu hayuning bawana. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Abimanyu (2)

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Abimanyu (2)
link : Abimanyu (2)

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Abimanyu (2) Abimanyu dalam wujud wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Abimanyu (2) Abimanyu telah memenangkan sayembara. Dewi Utari yang disayembarakan berhasil digendong Abimanyu. Paserta sayembara yang terdiri dari para raja dari seribu negara tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan di dalam pribadi Dewi Utari telah singgah babone ratu atau induknya raja yang bernama wahyu Widayat. Bagi seorang wanita yang mendapatkan wahyu Widayat ia akan menurunkan seorang raja. Oleh karena wahyu Widayat yang bersemayam tersebut, Dewi Utari menjadi sosok pribadi yang berbobot dan bernilai tinggi. Tidak sembarang orang mampu mengimbangi bobot nilainya, termasuk raja dari seribu negara.

Kecuali Abimanyu tentunya. Kemampuan Abimanyu dapat mengimbangi Dewi Utari dan kemudian menggendongnya dikarenakan ada wahyu Cakraningrat yang bersemayam di dalam pribadi Abimanyu. Wahyu Cakraningrat adalah wahyu yang dapat mengantar seseorang menjadi raja atau menurunkan raja. Abimanyu telah mendapatkan wahyu Cakraningrat karena ia tekun menjalani laku tapa. Oleh karenanya ia kuat menggendong Dewi Utari. Memang sudah menjadi kehendak Jawata bahwa Wahyu Cakraningrat bersatu dengan wahyu Widayat. Maka kemudian Abimanyu dan Dewi Utari diresmikan menjadi pasangan suami isteri yang diharapkan bakal menurunkan raja. Sebelum mereka berjanji setia, Dewi Utari bertanya kepada Abimanyu. Apakah Kakanda Abimanyu masih sendirian, dan belum pernah menikah? atas pertanyaan Dewi Utari tersebut seketika Abimanyu terdiam, tidak segera dapat menjawab.

Walaupun Abimanyu telah berhasil menggendong Dewi Utari, Abimanyu tidak mempunyai keberanian untuk berkata yang sesungguhnya bahwa Abimanyu telah menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prab Kresna. Abimanyu takut jika Dewi Utari mengetahui hal tersebut, ia akan mengurungkan niatnya dan menolak dirinya menjadi suaminya. Atas pertimbangan itulah maka kemudian Abimanyu dengan tegas mengatakan dan menyatakan bahwa ia belum pernah menikah. Dewi Utari sangsi atas pernyataan Abimanyu, karena ia mendengar kabar bahwa Abimanyu telah pernah menikah. Sumber yang dapat dipercaya mengatakan dengan jujur bahwa isteri Abimanyu adalah Dewi Siti Sundari. Abimanyu mengelak dengan gusarnya. Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kejujuran. Sungguh aku berkata dengan jujur bahwa aku belum pernah mempunyai isteri, selain dirimu, kata Abimanyu. Dewi Utari belum percaya.

Abimanyu semakin gusar dan bingung. Pada puncak kegusarannya Abimanyu menyatakan sumpah dihadapan Dewi Utari dan alam semesta. Aku bersumpah, jika aku sudah beristeri kelak aku akan mati dalam aniaya yang nista. Alam seakan menggelegar mendengar sumpah Abimanyu. Dewi Utari ketakutan akan sumpah Abimayu. Ia kemudian mendekap Abimanyu erat-erat. Takut kehilangan Abimanyu. Dewi Utari menyadari bahwa dirinya telah belajar ilmu pelet jatuh cinta kepada Abimayu. Oleh karenanya ia tidak lagi mempermasalahkan apakah Abimanyu sudah beristeri atau belum. Yang didambakan bahwa mulai sekarang Abimanyu menjadi miliknya dan menjadi suami satu-satunya, tidak ada isteri lain bagi Abimanyu selain dirinya. Pasangan Abimanyu dan Dewi Utari diharapakan oleh para tetua negeri baik negeri Amarta maupun negeri Wirata bakal menurunkan raja besar yang akan merajai di sebuah negara yang besar pula. Herjaka HS

Figur Wayang Abimanyu (2) Abimanyu dalam wujud wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Abimanyu (2) Abimanyu telah memenangkan sayembara. Dewi Utari yang disayembarakan berhasil digendong Abimanyu. Paserta sayembara yang terdiri dari para raja dari seribu negara tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan di dalam pribadi Dewi Utari telah singgah babone ratu atau induknya raja yang bernama wahyu Widayat. Bagi seorang wanita yang mendapatkan wahyu Widayat ia akan menurunkan seorang raja. Oleh karena wahyu Widayat yang bersemayam tersebut, Dewi Utari menjadi sosok pribadi yang berbobot dan bernilai tinggi. Tidak sembarang orang mampu mengimbangi bobot nilainya, termasuk raja dari seribu negara.

Kecuali Abimanyu tentunya. Kemampuan Abimanyu dapat mengimbangi Dewi Utari dan kemudian menggendongnya dikarenakan ada wahyu Cakraningrat yang bersemayam di dalam pribadi Abimanyu. Wahyu Cakraningrat adalah wahyu yang dapat mengantar seseorang menjadi raja atau menurunkan raja. Abimanyu telah mendapatkan wahyu Cakraningrat karena ia tekun menjalani laku tapa. Oleh karenanya ia kuat menggendong Dewi Utari. Memang sudah menjadi kehendak Jawata bahwa Wahyu Cakraningrat bersatu dengan wahyu Widayat. Maka kemudian Abimanyu dan Dewi Utari diresmikan menjadi pasangan suami isteri yang diharapkan bakal menurunkan raja. Sebelum mereka berjanji setia, Dewi Utari bertanya kepada Abimanyu. Apakah Kakanda Abimanyu masih sendirian, dan belum pernah menikah? atas pertanyaan Dewi Utari tersebut seketika Abimanyu terdiam, tidak segera dapat menjawab.

Walaupun Abimanyu telah berhasil menggendong Dewi Utari, Abimanyu tidak mempunyai keberanian untuk berkata yang sesungguhnya bahwa Abimanyu telah menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prab Kresna. Abimanyu takut jika Dewi Utari mengetahui hal tersebut, ia akan mengurungkan niatnya dan menolak dirinya menjadi suaminya. Atas pertimbangan itulah maka kemudian Abimanyu dengan tegas mengatakan dan menyatakan bahwa ia belum pernah menikah. Dewi Utari sangsi atas pernyataan Abimanyu, karena ia mendengar kabar bahwa Abimanyu telah pernah menikah. Sumber yang dapat dipercaya mengatakan dengan jujur bahwa isteri Abimanyu adalah Dewi Siti Sundari. Abimanyu mengelak dengan gusarnya. Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kejujuran. Sungguh aku berkata dengan jujur bahwa aku belum pernah mempunyai isteri, selain dirimu, kata Abimanyu. Dewi Utari belum percaya.

Abimanyu semakin gusar dan bingung. Pada puncak kegusarannya Abimanyu menyatakan sumpah dihadapan Dewi Utari dan alam semesta. Aku bersumpah, jika aku sudah beristeri kelak aku akan mati dalam aniaya yang nista. Alam seakan menggelegar mendengar sumpah Abimanyu. Dewi Utari ketakutan akan sumpah Abimayu. Ia kemudian mendekap Abimanyu erat-erat. Takut kehilangan Abimanyu. Dewi Utari menyadari bahwa dirinya telah belajar ilmu pelet jatuh cinta kepada Abimayu. Oleh karenanya ia tidak lagi mempermasalahkan apakah Abimanyu sudah beristeri atau belum. Yang didambakan bahwa mulai sekarang Abimanyu menjadi miliknya dan menjadi suami satu-satunya, tidak ada isteri lain bagi Abimanyu selain dirinya. Pasangan Abimanyu dan Dewi Utari diharapakan oleh para tetua negeri baik negeri Amarta maupun negeri Wirata bakal menurunkan raja besar yang akan merajai di sebuah negara yang besar pula. Herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Bilung

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Bilung
link : Bilung

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Bilung Bilung dalam penggambaran wayang kulit purwa, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Bilung Tokoh Bilung digambarkan berperawakan kecil dan pendek, kepalanya penuh dengan penyakit kudis, bibirnya agak lebar dan suaranya melengking sengau. Bilung tidak pernah muncul sendirian. Ia selalu bersama-sama dengan Togog. Hal tersebut dikarenakan tugas yang diemban Bilung adalah untuk mengikuti Togog. Kelahiran Bilung berawal ketika terjadi perebutan kekuasaan di kahyangan antara tiga bersaudara anak dari Sang Hyang Tunggal yang terdiri dari Sang Hyang Antaga atau Sang Hyang Puguh, anak sulung, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Mereka bertiga saling berebut menjadi penguasa tertinggi di kahyangan.

Dikarenakan tidak ada yang saling mengalah, maka Sang Hyang Tunggal mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menelan gunung Saloka dalam keadaan utuh dan kemudian memuntahkan kembali maka ia akan berhak menjadi penguasa kahyangan. Sang Hyang Puguh dan Sang Hyang Ismaya saling mendahului untuk menelan gunung Saloka. Karena tergesa-gesa, gigi Sang Hyang Puguh cuwil. Kemudian cuwilan gigi itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki. Oleh Sang Hyang Tunggal, laki-laki tersebut diberi nama Bilung. Karena gagal menelan gunung Saloka, Sang Hyang Puguh atau Sang Hyang Antaga yang kemudian terkenal dengan nama Togog diperintahkan oleh Sang Hyang Tunggal untuk turun ke dunia menjadi pamomong manusia.

Sedangkan Bilung diperintahkan mengikuti Togog turun ke dunia. Tokoh Bilung dan Togog dapat dikatakan sebagai tokoh dwi tunggal, dua tetapi satu, tak terpisahkan. Di mana ada Togog, disitu ada Bilung, demikian juga sebaliknya. Saking menyatunya hubungan antara Togog dan Bilung ada yang mengatakan sebagaimana hubungan antara Bapak dan anak atau hubungan antara kakak dan adik. Dalam mengemban tugas, Bilung dan Togog selalu mengabdi kepada seorang raja yang berperangai jelek dan berhati jahat. Namun walau cara pelet wanita demikian, Bilung dan Togog tetap menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Sebagai pamomong, nasihat-nasihat baik dan luhur selalu dilontarkan kepada tuannya.

Namun bukan salah Bilung dan Togog sebagai pamomong, jika kemudian sang raja yang di emong terjerumus dalam lembah kenistaan, dikarenakan tidak mau mematuhi nasihat-nasihat dari Bilung dan Togog. Bilung juga bernama Sarahita atau Sarawita. Nama tersebut ada kaitannya dengan penjelmaan dari dewa yang bernama Sang Hyang Surata atau Sang Hyang Sarahita. Ada kemungkinan bahwa Sang Hyang Sarahita menjelma pada cuwilan gigi Sang Hyang Antaga, Oleh karena itu ketika menjadi panakawan disebut dengan Bilung Sarahita. Selain sebagai panakawan atau pamomong, kemunculan Bilung juga berperan sebagai penghibur yang lucu, sinis, sekaligus kritis, dalam mengingatkan tuannya dan mengingatkan jamannya. herjaka HS

Figur Wayang Bilung Bilung dalam penggambaran wayang kulit purwa, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Bilung Tokoh Bilung digambarkan berperawakan kecil dan pendek, kepalanya penuh dengan penyakit kudis, bibirnya agak lebar dan suaranya melengking sengau. Bilung tidak pernah muncul sendirian. Ia selalu bersama-sama dengan Togog. Hal tersebut dikarenakan tugas yang diemban Bilung adalah untuk mengikuti Togog. Kelahiran Bilung berawal ketika terjadi perebutan kekuasaan di kahyangan antara tiga bersaudara anak dari Sang Hyang Tunggal yang terdiri dari Sang Hyang Antaga atau Sang Hyang Puguh, anak sulung, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Mereka bertiga saling berebut menjadi penguasa tertinggi di kahyangan.

Dikarenakan tidak ada yang saling mengalah, maka Sang Hyang Tunggal mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menelan gunung Saloka dalam keadaan utuh dan kemudian memuntahkan kembali maka ia akan berhak menjadi penguasa kahyangan. Sang Hyang Puguh dan Sang Hyang Ismaya saling mendahului untuk menelan gunung Saloka. Karena tergesa-gesa, gigi Sang Hyang Puguh cuwil. Kemudian cuwilan gigi itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki. Oleh Sang Hyang Tunggal, laki-laki tersebut diberi nama Bilung. Karena gagal menelan gunung Saloka, Sang Hyang Puguh atau Sang Hyang Antaga yang kemudian terkenal dengan nama Togog diperintahkan oleh Sang Hyang Tunggal untuk turun ke dunia menjadi pamomong manusia.

Sedangkan Bilung diperintahkan mengikuti Togog turun ke dunia. Tokoh Bilung dan Togog dapat dikatakan sebagai tokoh dwi tunggal, dua tetapi satu, tak terpisahkan. Di mana ada Togog, disitu ada Bilung, demikian juga sebaliknya. Saking menyatunya hubungan antara Togog dan Bilung ada yang mengatakan sebagaimana hubungan antara Bapak dan anak atau hubungan antara kakak dan adik. Dalam mengemban tugas, Bilung dan Togog selalu mengabdi kepada seorang raja yang berperangai jelek dan berhati jahat. Namun walau cara pelet wanita demikian, Bilung dan Togog tetap menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Sebagai pamomong, nasihat-nasihat baik dan luhur selalu dilontarkan kepada tuannya.

Namun bukan salah Bilung dan Togog sebagai pamomong, jika kemudian sang raja yang di emong terjerumus dalam lembah kenistaan, dikarenakan tidak mau mematuhi nasihat-nasihat dari Bilung dan Togog. Bilung juga bernama Sarahita atau Sarawita. Nama tersebut ada kaitannya dengan penjelmaan dari dewa yang bernama Sang Hyang Surata atau Sang Hyang Sarahita. Ada kemungkinan bahwa Sang Hyang Sarahita menjelma pada cuwilan gigi Sang Hyang Antaga, Oleh karena itu ketika menjadi panakawan disebut dengan Bilung Sarahita. Selain sebagai panakawan atau pamomong, kemunculan Bilung juga berperan sebagai penghibur yang lucu, sinis, sekaligus kritis, dalam mengingatkan tuannya dan mengingatkan jamannya. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Wisanggeni

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Wisanggeni
link : Wisanggeni

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Wisanggeni Kisah kelahiran Wisanggeni tidak seperti kisah-kisah kelahiran pada umumnya. Jika pada umumnya kelahiran membawa sukacita, tidaklah demikian dengan kelahiran Wisanggeni. Bayi merah yang menangis lucu, tidak ditimang dipangkuan ibu untuk kemudian di beri asi, tetapi dimasukan di Kawah Candradimuka yang panas membara. Batara Brama kakek sang bayi menyesal telah mengijinkan putrinya Dewi Dresanala yang sedang mengandung diceraikan dengan Arjuna untuk diboyong Dewasrani di Nusarukmi. Oleh karenanya, ketika tiba waktunya Dewi Dresanala melahirkan, bayi itu sengaja dimusnahkan oleh Dewasrani. Anehnya bayi tersebut tidak hancur menjadi abu, malahan tumbuh menjadi besar dan sakti. Ia kemudian diberi nama Wisanggeni, yang artinya inti dari api itu sendiri Wisanggeni yang adalah anak Arjuna merupakan seorang ksatria yang �ndugal kewarisan�, nakal tetapi �sembada�.

Badannya kecil dan parasnya tampan. Ia tidak bisa bahasa krama, walaupun dengan dewa sekalipun, tetapi jujur dan selalu berpegang pada kebenaran. Sang Hyang Pada Wenang penguasa alam semesta, sangat menyayangi Wisanggeni, oleh karenanya ia diberi kesaktian yang tak terkalahkan. Ia ikut Batara Brama kakeknya tinggal di kahyangan Duksinageni. Wisanggeni mempunyai seorang istri bernama Mustikawati putri Prabu Mustikadarma raja Sonyapura. Watak, �solahbawa� atau tindak-tanduk dan kesaktian Wisanggeni sama persis dengan pelet wanita kakak sepupunya, yaitu Antasena anak Bima. Keduanya sangat akrab dan kompak, tidak mau berpisah, kemana-mana selalu berdua. Kesaktian Wisanggeni yang tak terkalahkan ini menimbulkan kegelisahan para dewa.

Dasar kegelisahan tersebut adalah, jika nanti tiba waktunya perang Baratayuda, Wisanggeni menjadi senapati di pihak Pandawa, maka semua senopati Kurawa tak ada yang dapat menandingi Wisanggeni. Itu artinya bahwa rencana yang telah ditulis dalam Kitab Jitabsara mengenai ketentuan-ketentuan senopati yang nantinya saling berhadapan dari kedua belah pihak dalam perang Baratayuda, tidak berlaku. Dengan alasan itu maka Para dewa memutuskan bahwa Wisanggeni tidak diperbolehkan ikut dalam perang Baratyuda Dikarenakan Wisanggeni adalah titah kesayangan Sang Hyang Pada Wenang, maka Batara Guru sebagai rajanya para dewa mengutus Batara Brama untuk memasrahkan Wisanggeni cucunya kepada Sang Hyang Pada Wenang. Dihadapan Sag Hyang Pada Wenang Wisanggeni bersama Antasena Sepupunya menanyakan apakah perang Baratayuda akan dimenangkan Pandawa?

Sang Hyang Pada Wenang menjawab, Pandawa akan menang jika Wisanggeni dan Antasena merelakan diri untuk tidak ikut berperang. Jika tidak ikut berperang lantas apa yang kami kerjakan? Tinggalah di sini, kalian akan melihat kemenangan Pandawa. Wisanggeni dan Antasana mentaati perintah Sang Hyang Pada Wenang. Untuk dapat tinggal selamanya bersama Sang Hyang Pada Wenang dan bersama-sama menyaksikan Pandawa yang jaya di perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena �meracut raga�nya. Mereka memandang titik diantara dua mata. Semakin lama tubuh Wisanggeni dan Antasena mengecil dan semakin mengecil hingga akhirnya hilang kembali ke asal muasal, alam keabadian. herjaka HS

Figur Wayang Wisanggeni Kisah kelahiran Wisanggeni tidak seperti kisah-kisah kelahiran pada umumnya. Jika pada umumnya kelahiran membawa sukacita, tidaklah demikian dengan kelahiran Wisanggeni. Bayi merah yang menangis lucu, tidak ditimang dipangkuan ibu untuk kemudian di beri asi, tetapi dimasukan di Kawah Candradimuka yang panas membara. Batara Brama kakek sang bayi menyesal telah mengijinkan putrinya Dewi Dresanala yang sedang mengandung diceraikan dengan Arjuna untuk diboyong Dewasrani di Nusarukmi. Oleh karenanya, ketika tiba waktunya Dewi Dresanala melahirkan, bayi itu sengaja dimusnahkan oleh Dewasrani. Anehnya bayi tersebut tidak hancur menjadi abu, malahan tumbuh menjadi besar dan sakti. Ia kemudian diberi nama Wisanggeni, yang artinya inti dari api itu sendiri Wisanggeni yang adalah anak Arjuna merupakan seorang ksatria yang �ndugal kewarisan�, nakal tetapi �sembada�.

Badannya kecil dan parasnya tampan. Ia tidak bisa bahasa krama, walaupun dengan dewa sekalipun, tetapi jujur dan selalu berpegang pada kebenaran. Sang Hyang Pada Wenang penguasa alam semesta, sangat menyayangi Wisanggeni, oleh karenanya ia diberi kesaktian yang tak terkalahkan. Ia ikut Batara Brama kakeknya tinggal di kahyangan Duksinageni. Wisanggeni mempunyai seorang istri bernama Mustikawati putri Prabu Mustikadarma raja Sonyapura. Watak, �solahbawa� atau tindak-tanduk dan kesaktian Wisanggeni sama persis dengan pelet wanita kakak sepupunya, yaitu Antasena anak Bima. Keduanya sangat akrab dan kompak, tidak mau berpisah, kemana-mana selalu berdua. Kesaktian Wisanggeni yang tak terkalahkan ini menimbulkan kegelisahan para dewa.

Dasar kegelisahan tersebut adalah, jika nanti tiba waktunya perang Baratayuda, Wisanggeni menjadi senapati di pihak Pandawa, maka semua senopati Kurawa tak ada yang dapat menandingi Wisanggeni. Itu artinya bahwa rencana yang telah ditulis dalam Kitab Jitabsara mengenai ketentuan-ketentuan senopati yang nantinya saling berhadapan dari kedua belah pihak dalam perang Baratayuda, tidak berlaku. Dengan alasan itu maka Para dewa memutuskan bahwa Wisanggeni tidak diperbolehkan ikut dalam perang Baratyuda Dikarenakan Wisanggeni adalah titah kesayangan Sang Hyang Pada Wenang, maka Batara Guru sebagai rajanya para dewa mengutus Batara Brama untuk memasrahkan Wisanggeni cucunya kepada Sang Hyang Pada Wenang. Dihadapan Sag Hyang Pada Wenang Wisanggeni bersama Antasena Sepupunya menanyakan apakah perang Baratayuda akan dimenangkan Pandawa?

Sang Hyang Pada Wenang menjawab, Pandawa akan menang jika Wisanggeni dan Antasena merelakan diri untuk tidak ikut berperang. Jika tidak ikut berperang lantas apa yang kami kerjakan? Tinggalah di sini, kalian akan melihat kemenangan Pandawa. Wisanggeni dan Antasana mentaati perintah Sang Hyang Pada Wenang. Untuk dapat tinggal selamanya bersama Sang Hyang Pada Wenang dan bersama-sama menyaksikan Pandawa yang jaya di perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena �meracut raga�nya. Mereka memandang titik diantara dua mata. Semakin lama tubuh Wisanggeni dan Antasena mengecil dan semakin mengecil hingga akhirnya hilang kembali ke asal muasal, alam keabadian. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Aswatama

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Aswatama
link : Aswatama

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Aswatama Aswatama dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo, Koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono) Aswatama Aswatama lahir dari seorang Bidadari Wilotama yang sedang dikutuk dewa menjadi seekor kuda sembrani. Ia akan terlepas dari kutukan jika ada seorang laki-laki yang bersedia mengawininnya. Setelah beberapa tahun Bidadari Wilotama menjalani kutukan, bertemulah ia dengan pemuda tampan bernama Kumbayana di pinggir pantai. Pada waktu itu Kumbayana berniat menyeberangi samodra menuju tanah Jawa, namun apa daya ia tidak dapat terbang. Kuda Sembrani bersedia menyeberangkan Kumbayana ke tanah Jawa. Maka digendongnya Kumbayana dipunggung kuda untuk dibawa terbang melintasi samodra. Sejak peristiwa itu, kuda sembrani mengandung.

Inilah awal pelepasan dari sebuah kutukan. Bersamaan dengan kelahiran anak yang dikandung, kuda Sembrani tersebut lepas dari kutukan. Ia kembali kewujud semula, menjadi seorang bidadari yang cantik jelita. Kumbayana, ayah dari anak yang dilahirkan, tak kuasa mencegah Bidadari Wilotama istrinya, agar tidak kembali ke Kahyangan. Namun sebelum meninggalkan Kumbayana dan bayinya, bidadari Wilotama memberikan tusuk konde kepada Kumbayana sebagai tanda cinta. Sepeninggal Bidadari Wilotama, Kumbayana memandangi anaknya yang masih bayi dengan seksama. Wajahnya tampan, tetapi rambutnya, seperti rambut kuda. Ia menamakan anaknya, Aswatama. Aswa adalah kuda dan tama atau utama berarti pilihan.

Kumbayana yang kemudian terkenal dengan nama Durna, mengasuh Aswatama sendirian hingga dewasa. Durna sangat menyayangi Aswatama, demikian juga sebaliknya. Durna yang kemudian diangkat menjadi guru besar istana Hastinapura, dengantugas utama mengajar para putra raja yaitu Kurawa dan kemenakan raja yaitu Pandawa, menjadikan Aswatama pun bergabung dengan para Kurawa. Jika ayahnya sangat dihormati oleh kedua belah pihak, tidak demikian dengan Aswatama. Keberadaan Aswatama dipandang sebelah mata. Peristiwa yang sangat menyakitkan bagi Aswatama adalah ketika ia melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh Prabu Salya pada perang Baratayuda.

Dengan mata kepala sendiri, Aswatama yang pada waktu itu menjadi kernet kereta melihat Prabu Salya, yang menjadi kusir kereta, sengaja menarik kendali keras-keras, tepat ketika Adipati Karna sang senopati, melepaskan panah pusaka. Akibatnya senjata pamungkas Adipai Karna meleset dari leher Harjuna. Namun Prabu Duryudana tidak mempercayai laporannya. Malahan Aswatama diusir dari negara Hastina. Oleh karenanya hingga perang Baratayuda usai, dan Duryudana pun telah gugur. Aswatama adalah salah satu sekutu Korawa pelet mimpi yang masih hidup. Walaupun Aswatama tidak lagi membela sekutunya, namun karena Durna ayahnya gugur dalam perang besar Baratayuda, ia dendam kepada Pandawa yang telah membunuh ayah tercinta.

Untuk membalas dendam itu, ia �melandak�, atau merangkak sembari membuat lobang di tanah, menyusup ke perkemahan Pandawa pada malam hari. Dikarenakan mereka berbaring tidur dalam kelelahan yang amat sangat, Aswatama berhasil membunuh beberapa orang yaitu Dewi Srikandi, Banowati, Pancawala, termasuk Drestajumena orang yang telah membunuh Resi Durna ayahnya. Namung malang bagi Aswatama, ketika ia akan membunuh Parikesit, bayi Abimanyu yang kelak akan menjadi raja, tiba-tiba bayi itu bangun dan dengan tidak sengaja kakinya menendang panah Pasopati yang ditaruh di ranjang bagian bawah kaki bayi. Panah Pasopati, panah pusaka milik Harjuna, mengenai tubuh Aswatama. herjaka HS

Figur Wayang Aswatama Aswatama dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo, Koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono) Aswatama Aswatama lahir dari seorang Bidadari Wilotama yang sedang dikutuk dewa menjadi seekor kuda sembrani. Ia akan terlepas dari kutukan jika ada seorang laki-laki yang bersedia mengawininnya. Setelah beberapa tahun Bidadari Wilotama menjalani kutukan, bertemulah ia dengan pemuda tampan bernama Kumbayana di pinggir pantai. Pada waktu itu Kumbayana berniat menyeberangi samodra menuju tanah Jawa, namun apa daya ia tidak dapat terbang. Kuda Sembrani bersedia menyeberangkan Kumbayana ke tanah Jawa. Maka digendongnya Kumbayana dipunggung kuda untuk dibawa terbang melintasi samodra. Sejak peristiwa itu, kuda sembrani mengandung.

Inilah awal pelepasan dari sebuah kutukan. Bersamaan dengan kelahiran anak yang dikandung, kuda Sembrani tersebut lepas dari kutukan. Ia kembali kewujud semula, menjadi seorang bidadari yang cantik jelita. Kumbayana, ayah dari anak yang dilahirkan, tak kuasa mencegah Bidadari Wilotama istrinya, agar tidak kembali ke Kahyangan. Namun sebelum meninggalkan Kumbayana dan bayinya, bidadari Wilotama memberikan tusuk konde kepada Kumbayana sebagai tanda cinta. Sepeninggal Bidadari Wilotama, Kumbayana memandangi anaknya yang masih bayi dengan seksama. Wajahnya tampan, tetapi rambutnya, seperti rambut kuda. Ia menamakan anaknya, Aswatama. Aswa adalah kuda dan tama atau utama berarti pilihan.

Kumbayana yang kemudian terkenal dengan nama Durna, mengasuh Aswatama sendirian hingga dewasa. Durna sangat menyayangi Aswatama, demikian juga sebaliknya. Durna yang kemudian diangkat menjadi guru besar istana Hastinapura, dengantugas utama mengajar para putra raja yaitu Kurawa dan kemenakan raja yaitu Pandawa, menjadikan Aswatama pun bergabung dengan para Kurawa. Jika ayahnya sangat dihormati oleh kedua belah pihak, tidak demikian dengan Aswatama. Keberadaan Aswatama dipandang sebelah mata. Peristiwa yang sangat menyakitkan bagi Aswatama adalah ketika ia melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh Prabu Salya pada perang Baratayuda.

Dengan mata kepala sendiri, Aswatama yang pada waktu itu menjadi kernet kereta melihat Prabu Salya, yang menjadi kusir kereta, sengaja menarik kendali keras-keras, tepat ketika Adipati Karna sang senopati, melepaskan panah pusaka. Akibatnya senjata pamungkas Adipai Karna meleset dari leher Harjuna. Namun Prabu Duryudana tidak mempercayai laporannya. Malahan Aswatama diusir dari negara Hastina. Oleh karenanya hingga perang Baratayuda usai, dan Duryudana pun telah gugur. Aswatama adalah salah satu sekutu Korawa pelet mimpi yang masih hidup. Walaupun Aswatama tidak lagi membela sekutunya, namun karena Durna ayahnya gugur dalam perang besar Baratayuda, ia dendam kepada Pandawa yang telah membunuh ayah tercinta.

Untuk membalas dendam itu, ia �melandak�, atau merangkak sembari membuat lobang di tanah, menyusup ke perkemahan Pandawa pada malam hari. Dikarenakan mereka berbaring tidur dalam kelelahan yang amat sangat, Aswatama berhasil membunuh beberapa orang yaitu Dewi Srikandi, Banowati, Pancawala, termasuk Drestajumena orang yang telah membunuh Resi Durna ayahnya. Namung malang bagi Aswatama, ketika ia akan membunuh Parikesit, bayi Abimanyu yang kelak akan menjadi raja, tiba-tiba bayi itu bangun dan dengan tidak sengaja kakinya menendang panah Pasopati yang ditaruh di ranjang bagian bawah kaki bayi. Panah Pasopati, panah pusaka milik Harjuna, mengenai tubuh Aswatama. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Kartamarma

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Kartamarma
link : Kartamarma

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Kartamarma Kartamarma dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Kartamarma Kartamarma adalah salah satu dari seratus anak bersaudara laki-laki yang lebih populer disebut dengan Kurawa. Anak pasangan Destarastra dan Dewi Gendari ini bertempat tinggal di negara kecil yang ditaklukan Hastina, dan kemudian disebut dengan ksatrian Toyatinalang. Di Hastinapura Kartamarma termasuk tokoh penting. Karena disamping sebagai putra raja, sewaktu yang menjadi raja Destarastra atau juga adik raja saat yang menjadi raja Duryudana, Kartamarma diangkat menjadi panitisastra atau sekretaris negara pada masa pemerintahan Prabu Duryudana. Oleh karenanya ia selalu hadir dalam setiap adegan atau cerita yang mengisahkan para Kurawa.

Walaupun Kartamarma tidak mempunyai kesaktian yang menonjol, ia adalah satu-satunya keluarga kurawa yang tidak mati dalam perang Baratayuda. Ketika melihat ilmu pelet ampuh gelagat bahwa Kurawa bakal kalah, Kartamarma menyingkir ke hutan sembari menunggu perang selesai. Di hutan Kartamarma bertemu dengan Aswatama, anak Pandita Durna. Setelah mendengar kabar bahwa Duryudana telah mati dan perang Baratayuda selesai Kartamarma dan Aswatama bermaksud kembali ke Hastina untuk menjemput Dewi Banowati. Kartamarma ingin mengambil istri, sedangkan Aswatama bermaksud membunuh Banowati. Namun maksud keduanya tidak kesampaian, karena Dewi Banowati telah terlebih dahulu diboyong oleh Arjuna di perkemahan para Pandawa. Akhirnya Kartamarma dan Aswatama merubah rencana.

Mereka ingin menyusup ke perkemahan pada malam hari untuk membunuh para pandawa. Dalam penyusupan tersebut Aswatama berhasil membunuh Banowati, Drestajumena dan Srikandi. Sedangkan Kartamarma dengan ditemani Resi Krepa menunggu di luar perkemahan. Keberadaan mereka berdua dipergoki oleh keluarga pandawa. Dihadapan Kartamarma dan Resi Krepa Prabu Kresna mengatakan bahwa dengan menyusup di perkemahan pada malam hari untuk membunuh lawan yang sedang istirahat, merupakan sikap yang tidak terpuji.

Sikap yang telah menanggalkan watak ksatria dan watak Pandita. Oleh karenanya Prabu Kresna mengutuk Kartamarma dan Resi Krepa menjadi seekor �Kutis� hewan pemakan kotoran. Ada yang mengisahkan bahwa Kartamarma atau Kertawarma bukan salah satu anak pasangan Destrarastra dan Gendari, melainkan anak Prabu Herdika seorang raja di Kerajaan Bhoja. Dalam perang Baratayuda, Kertawarma memihak Korawa. Hingga perang berakhir Kertawarma masih selamat. Ia kemudian pulang ke negaranya, untuk tidak berperang lagi. herjaka HS

Figur Wayang Kartamarma Kartamarma dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Kartamarma Kartamarma adalah salah satu dari seratus anak bersaudara laki-laki yang lebih populer disebut dengan Kurawa. Anak pasangan Destarastra dan Dewi Gendari ini bertempat tinggal di negara kecil yang ditaklukan Hastina, dan kemudian disebut dengan ksatrian Toyatinalang. Di Hastinapura Kartamarma termasuk tokoh penting. Karena disamping sebagai putra raja, sewaktu yang menjadi raja Destarastra atau juga adik raja saat yang menjadi raja Duryudana, Kartamarma diangkat menjadi panitisastra atau sekretaris negara pada masa pemerintahan Prabu Duryudana. Oleh karenanya ia selalu hadir dalam setiap adegan atau cerita yang mengisahkan para Kurawa.

Walaupun Kartamarma tidak mempunyai kesaktian yang menonjol, ia adalah satu-satunya keluarga kurawa yang tidak mati dalam perang Baratayuda. Ketika melihat ilmu pelet ampuh gelagat bahwa Kurawa bakal kalah, Kartamarma menyingkir ke hutan sembari menunggu perang selesai. Di hutan Kartamarma bertemu dengan Aswatama, anak Pandita Durna. Setelah mendengar kabar bahwa Duryudana telah mati dan perang Baratayuda selesai Kartamarma dan Aswatama bermaksud kembali ke Hastina untuk menjemput Dewi Banowati. Kartamarma ingin mengambil istri, sedangkan Aswatama bermaksud membunuh Banowati. Namun maksud keduanya tidak kesampaian, karena Dewi Banowati telah terlebih dahulu diboyong oleh Arjuna di perkemahan para Pandawa. Akhirnya Kartamarma dan Aswatama merubah rencana.

Mereka ingin menyusup ke perkemahan pada malam hari untuk membunuh para pandawa. Dalam penyusupan tersebut Aswatama berhasil membunuh Banowati, Drestajumena dan Srikandi. Sedangkan Kartamarma dengan ditemani Resi Krepa menunggu di luar perkemahan. Keberadaan mereka berdua dipergoki oleh keluarga pandawa. Dihadapan Kartamarma dan Resi Krepa Prabu Kresna mengatakan bahwa dengan menyusup di perkemahan pada malam hari untuk membunuh lawan yang sedang istirahat, merupakan sikap yang tidak terpuji.

Sikap yang telah menanggalkan watak ksatria dan watak Pandita. Oleh karenanya Prabu Kresna mengutuk Kartamarma dan Resi Krepa menjadi seekor �Kutis� hewan pemakan kotoran. Ada yang mengisahkan bahwa Kartamarma atau Kertawarma bukan salah satu anak pasangan Destrarastra dan Gendari, melainkan anak Prabu Herdika seorang raja di Kerajaan Bhoja. Dalam perang Baratayuda, Kertawarma memihak Korawa. Hingga perang berakhir Kertawarma masih selamat. Ia kemudian pulang ke negaranya, untuk tidak berperang lagi. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Batara Guru

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Batara Guru
link : Batara Guru

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Batara Guru Batara Guru tidak mengendarai Lembu Andini, melainkan mengendarai sepasang Naga, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Batara Guru Batara Guru adalah raja para dewa, di kahyangan Jonggringsaloka, atau juga sering disebut kahyangan Suralaya. Kedudukannya sebagai penguasa tertinggi ini berkaitan dengan sayembara yang diadakan oleh Sang Hyang Tunggal ayahnya. Pada waktu ke tiga anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati, yaitu Sang Hyang Tejamantri (dari kulit telur), Sang Hyang Ismaya (dari putih telur) dan Sang Hyang Manikmaya (dari kuning telur) telah tumbuh dewasa, mereka memperebutkan penguasa tertinggi di kahyangan Suralaya.

Untuk mengatasi agar tidak saling berebut, Hyang Tunggal mengadakan sayembara, barang siapa dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera mampu memuntahkannya kembali, ia berhak menjadi penguasa Kahyangan. Sang Hyang Tejamantri sebagai putra tertua mendapat kesempatan pertama. Namun hingga mulutnya robek dan badannya rusak Sang Hyang Tejamantri yang kemudian terkenal dengan nama Togog tidak berhasil menelan gunung Saloka. Kesempatan ke dua diberikan kepada Sang Hyang Manikmaya. Ia berhasil menelan gunung Saloka tetapi tidak dapat mengeluarkan kembali. Gunung Saloka mengeram di pantat Sang Hyang Ismaya, sehingga pantatnya menjadi sangat besar, ia kemudian terkenal dengan nama Semar.

Dengan kejadian tersebut Sang Hyang Manikmaya anak yang nomor tiga, dengan sendirinya tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti sayembara. Atas kebijaksanaan Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Manikmaya dinobatkan menjadi raja, dengan sebutan Batara Guru. Batara Guru adalah dewa yang berwajah tampan tetapi memiliki taring kecil, bertangan empat dua diantaranya selalu menggenggam pusaka andalan yang berupa cis, bentuknya seperti anak panah bermata tiga dalam ukuran besar. Kedua pusaka itu namanya adalah cis Jaludara dan cis Trisula. Lehernya berwarna biru/nila, serta kakinya apus, tidak kuat menopang badannya, sehingga ia selalu naik seekor lembu namanya lembu Andini. Batara Guru mempunyai banyak nama (dasanama) yang antara lain adalah: Batara Siwah, Sang Hyang Caturboja (bertangan empat),

Sang Hyang Jagadnata, Sang Hyang Girinata, Sang Hyang Nilakantha (berleher nila), Sang Hyang Udipati, Batara Trinetra (bermata tiga). Pada dasarnya nama-nama tersebut menggambarkan ciri dan perwatakkan dari Batara Guru yang dikenal di masyarakat. Namun sering juga antara nama yang satu dan nama yang lainnya menunjuk sosok pribadi yang berbeda. Misalnya, nama Batara Guru diberi kesan berbeda dengan Batara Siwa. Walaupun menjadi raja dari para dewa, Batara Guru bukanlah makhluk yang sempurna. Seperti halnya manusia, atau pun dewa lainnya. Ia tidak jarang berbuat salah. Dalam berbagai lakon, Batara Guru beberapa kali melakukan kesalahan, ia sering tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya, nafsu amarahnya, dan dendamnya. Menurut mitologi Hindu, Batara Guru ini disebut Dewa Siwa, yaitu salah satu Dewa yang dipercaya sebagai perusak dunia.

Dewa pencipta dunia adalah Dewa Brahma dan Dewa pemelihara dunia adalah Dewa Wisnu, selanjutnya ketiga dewa tersebut disebut dengan Tri Murti. Menurut sejarahnya, mengapa Batara Guru mempunyai tangan empat, karena pada waktu itu ia merasa kesulitan untuk menangkap Dewi Uma, bidadari yang amat dicintainya. Pasalnya selain sakti, pelet ampuh Dewi Uma sangat licin, sehingga ia selalu dapat melepaskan diri dari tangkapan Batara Guru. Pada hal Dewi Uma telah berjanji, ia mau menjadi istri Batara Guru, jika ia dapat menangkapnya. Atas kesulitan itu, Batara Guru memohon kepada Sang Hyang Wenang kakeknya, agar ia dapat menangkap Dewi Uma. Oleh kakeknya ia diberi tangan empat, yang kemudian dengan keempat tangannya, Batara Guru berhasil menangkap Dewi Uma, dan mengambilnya menjadi istri.

Dengan Dewi Uma Batara Guru mempunyai anak yang diantaranya adalah Batara Sambo, Batara Brama, Batara Endra, Batara Bayu, Batara Wisnu, Batara Sakra, Batara Asmara dan Batara Mahadewa. Selain bertangan empat, Batara Guru mempunyai taring akibat dari kutukan Dewi Uma istrinya. Karena pada waktu bercengkerama bersama istrinya, Batara Guru melakukan tindakan atas Dewi Uma seperti layaknya seorang raksasa. Sedangkan leher Batara Guru berwana nila kebiru-biruan, karena ia telah menelan racun yang muncul dari samodra Mantana, tempat para dewa mencari Tirta Amerta. Racun tersebut sengaja ditelan oleh Batara Guru demi penyelamatan para dewa, yang pada waktu itu saling berebut ingin menelan racun, karena dikira Tirta Amerta. Herjaka HS

Figur Wayang Batara Guru Batara Guru tidak mengendarai Lembu Andini, melainkan mengendarai sepasang Naga, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Batara Guru Batara Guru adalah raja para dewa, di kahyangan Jonggringsaloka, atau juga sering disebut kahyangan Suralaya. Kedudukannya sebagai penguasa tertinggi ini berkaitan dengan sayembara yang diadakan oleh Sang Hyang Tunggal ayahnya. Pada waktu ke tiga anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati, yaitu Sang Hyang Tejamantri (dari kulit telur), Sang Hyang Ismaya (dari putih telur) dan Sang Hyang Manikmaya (dari kuning telur) telah tumbuh dewasa, mereka memperebutkan penguasa tertinggi di kahyangan Suralaya.

Untuk mengatasi agar tidak saling berebut, Hyang Tunggal mengadakan sayembara, barang siapa dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera mampu memuntahkannya kembali, ia berhak menjadi penguasa Kahyangan. Sang Hyang Tejamantri sebagai putra tertua mendapat kesempatan pertama. Namun hingga mulutnya robek dan badannya rusak Sang Hyang Tejamantri yang kemudian terkenal dengan nama Togog tidak berhasil menelan gunung Saloka. Kesempatan ke dua diberikan kepada Sang Hyang Manikmaya. Ia berhasil menelan gunung Saloka tetapi tidak dapat mengeluarkan kembali. Gunung Saloka mengeram di pantat Sang Hyang Ismaya, sehingga pantatnya menjadi sangat besar, ia kemudian terkenal dengan nama Semar.

Dengan kejadian tersebut Sang Hyang Manikmaya anak yang nomor tiga, dengan sendirinya tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti sayembara. Atas kebijaksanaan Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Manikmaya dinobatkan menjadi raja, dengan sebutan Batara Guru. Batara Guru adalah dewa yang berwajah tampan tetapi memiliki taring kecil, bertangan empat dua diantaranya selalu menggenggam pusaka andalan yang berupa cis, bentuknya seperti anak panah bermata tiga dalam ukuran besar. Kedua pusaka itu namanya adalah cis Jaludara dan cis Trisula. Lehernya berwarna biru/nila, serta kakinya apus, tidak kuat menopang badannya, sehingga ia selalu naik seekor lembu namanya lembu Andini. Batara Guru mempunyai banyak nama (dasanama) yang antara lain adalah: Batara Siwah, Sang Hyang Caturboja (bertangan empat),

Sang Hyang Jagadnata, Sang Hyang Girinata, Sang Hyang Nilakantha (berleher nila), Sang Hyang Udipati, Batara Trinetra (bermata tiga). Pada dasarnya nama-nama tersebut menggambarkan ciri dan perwatakkan dari Batara Guru yang dikenal di masyarakat. Namun sering juga antara nama yang satu dan nama yang lainnya menunjuk sosok pribadi yang berbeda. Misalnya, nama Batara Guru diberi kesan berbeda dengan Batara Siwa. Walaupun menjadi raja dari para dewa, Batara Guru bukanlah makhluk yang sempurna. Seperti halnya manusia, atau pun dewa lainnya. Ia tidak jarang berbuat salah. Dalam berbagai lakon, Batara Guru beberapa kali melakukan kesalahan, ia sering tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya, nafsu amarahnya, dan dendamnya. Menurut mitologi Hindu, Batara Guru ini disebut Dewa Siwa, yaitu salah satu Dewa yang dipercaya sebagai perusak dunia.

Dewa pencipta dunia adalah Dewa Brahma dan Dewa pemelihara dunia adalah Dewa Wisnu, selanjutnya ketiga dewa tersebut disebut dengan Tri Murti. Menurut sejarahnya, mengapa Batara Guru mempunyai tangan empat, karena pada waktu itu ia merasa kesulitan untuk menangkap Dewi Uma, bidadari yang amat dicintainya. Pasalnya selain sakti, pelet ampuh Dewi Uma sangat licin, sehingga ia selalu dapat melepaskan diri dari tangkapan Batara Guru. Pada hal Dewi Uma telah berjanji, ia mau menjadi istri Batara Guru, jika ia dapat menangkapnya. Atas kesulitan itu, Batara Guru memohon kepada Sang Hyang Wenang kakeknya, agar ia dapat menangkap Dewi Uma. Oleh kakeknya ia diberi tangan empat, yang kemudian dengan keempat tangannya, Batara Guru berhasil menangkap Dewi Uma, dan mengambilnya menjadi istri.

Dengan Dewi Uma Batara Guru mempunyai anak yang diantaranya adalah Batara Sambo, Batara Brama, Batara Endra, Batara Bayu, Batara Wisnu, Batara Sakra, Batara Asmara dan Batara Mahadewa. Selain bertangan empat, Batara Guru mempunyai taring akibat dari kutukan Dewi Uma istrinya. Karena pada waktu bercengkerama bersama istrinya, Batara Guru melakukan tindakan atas Dewi Uma seperti layaknya seorang raksasa. Sedangkan leher Batara Guru berwana nila kebiru-biruan, karena ia telah menelan racun yang muncul dari samodra Mantana, tempat para dewa mencari Tirta Amerta. Racun tersebut sengaja ditelan oleh Batara Guru demi penyelamatan para dewa, yang pada waktu itu saling berebut ingin menelan racun, karena dikira Tirta Amerta. Herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Gareng

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Gareng
link : Gareng

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang gareng Penggambaran tokoh Gareng dalam bentuk wayang kulit Purwa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Gareng Di padepokan Bluluktiba, tinggallah seorang ksatria muda berwajah tampan bernama Bambang Sukadadi. Sebagian besar dari hidupnya dijalaninya dengan laku tapa. Pada suatu waktu, ketika dalam perjalanan pulang sehabis melakukan tapa, Bambang Sukadadi bertemu dengan seorang pemuda tampan sebaya dirinya, bernama Bambang Precupanyukilan dari padepokan Kembangsore, yang juga gemar menjalani laku tapa. Pertemuan sesama petapa muda tersebut berujung dengan pertengkaran. Masing-masing dari keduanya merasa dirinyalah yang paling tampan, paling sakti dan paling unggul.

Untuk membuktikan siapa yang pantas diunggulkan, mereka malakukan perang tanding, satu melawan satu. Konon perang tanding itu amatlah lama. Jika lelah mereka sepakat untuk berhenti, dan kemudian melanjutkan lagi. Beberapa hari berlalu, ketika perang belum juga usai, lewatlah Janggan Smarasanta manusia cebol yang kemudian menjadi tempat menitis Semar Ismaya, dari padepokan Karang Kadempel. Semar tidak sampai hati melihat wajah dan tubuh kedua rusak. Maka Semar mencoba melerainya dengan kata-kata. Apakah yang kalian perebutkan hai anak muda? Ketampanan? Atau kesaktian? Karena sesungguhnya ketampanan dan kesaktian yang dianugerahkan sudah tidak ada padamu.

Lihatlah wajahmu telah rusak dan tidak ada pemenang diantara kalian. Mendengar seruan Semar, Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan seperti diberi aba-aba, mereka menghentikan pertengkarannya dan lari untuk mendapatkan permukaan air nan jernih untuk melihat wajahnya. Keduanya lungkai dan lemas mendapati wajahnya yang telah rusak. Mereka menyesali perbuatan bodohnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Atas penyesalan yang diungkapkan, Semar mengangkat mereka menjadi anaknya. Bambang Sukadadi, yang lebih tua diberi nama Gareng. Sedangkan Bambang Precupanyukilan menjadi adik Gareng bernama Petruk. Mengenai asal-usul Gareng ini ada beberapa versi, ada yang menyebutkan bahwa sebelumnya Gareng ini adalah anak dari pasangan Gandarwa Bausasra dan Nyi Luntrung yang berkuasa di wilayah gunung Nilandusa dengan nama Kucir.

Karena disia-siakan Kucir dan Kuncung adiknya di ambil anak oleh Semar dan namamnya diganti dengan Gareng dan Petruk. Sedangkan menurut versi pedhalangan khusunya yang sering diceritakan oleh dalang Jogyakarta, Gareng sebelumnya adalah anak raja Jin yang bernama Gandarwa Raja Bali, dengan nama Penyukilan. Ia berwajah tampan tetapi nakal. Ia memiliki saudara tua bernama Pecruk. Bersama dengan kakaknya itulah ia sering mengganggu orang yang sedang lewat. Pada suatu saat ketika sedang melakukan aksi pelet birahi �nakal�nya, Pecruk dan Penyukilan berhadapan dengan Semar yang baru saja turun dari Kahyangan, maka diganggulah Semar oleh keduanya. Tetapi Semar melawan bahkan kedua anak itu diinjak-injak hingga tubuhnya rusak. Akhirnya Pecruk dan Penyukilan mohon ampun dan mengaku kalah. Oleh Semar, kedua anak itu diampuni asal bersedia menemani menjadi pamomong satria. Pecruk dan Penyukilan bersedia menuruti kehendak Semar.

Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Penyukilan yang lebih dulu rusak tubuhnya, dianggap sebagai saudara sulung dan diberi nama Gareng. Kemudian Pecruk diangkat menjadi anak nomor dua. Dari beberapa versi tersebut, Gareng ditempatkan sebagai anak angkat Semar yang nomor satu, dan selalu bersama Semar menjadi pamomong satria berbudi luhur. Dalam pewayangan Gareng digambarkan sebagai seorang yang serba cacat. Matanya juling hidungnya bulat, tangannya ceko atau bengkok, perutnya buncit seperti, kakinya pincang karena sakit bubulen. Namun dibalik semua kekurangan pada fisiknya, Gareng adalah seseorang yang sederhana, rendah hati dan jujur. Dalam pentas wayang kulit purwa, Gareng selalu tampil pada tengah malam saat adegan gara-gara. Ia tampil bersama Semar, Petruk dan Bagong. Gareng mempunyai seorang istri bernama Dewi Sariwati putri Prabu Sarawasesa dari kerajaan Saralengka. Dalam sejarah hidupnya, Gareng pernah menjadi seorang raja bergelar Prabu Pandu Pragola di kerajaan Paranggumiwang. Nama lain Gareng adalah: Nala Gareng, Nalawangsa, Cekruk Tuna, Pancal Pamor, Pegat Waja. herjaka HS

Figur Wayang gareng Penggambaran tokoh Gareng dalam bentuk wayang kulit Purwa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono) Gareng Di padepokan Bluluktiba, tinggallah seorang ksatria muda berwajah tampan bernama Bambang Sukadadi. Sebagian besar dari hidupnya dijalaninya dengan laku tapa. Pada suatu waktu, ketika dalam perjalanan pulang sehabis melakukan tapa, Bambang Sukadadi bertemu dengan seorang pemuda tampan sebaya dirinya, bernama Bambang Precupanyukilan dari padepokan Kembangsore, yang juga gemar menjalani laku tapa. Pertemuan sesama petapa muda tersebut berujung dengan pertengkaran. Masing-masing dari keduanya merasa dirinyalah yang paling tampan, paling sakti dan paling unggul.

Untuk membuktikan siapa yang pantas diunggulkan, mereka malakukan perang tanding, satu melawan satu. Konon perang tanding itu amatlah lama. Jika lelah mereka sepakat untuk berhenti, dan kemudian melanjutkan lagi. Beberapa hari berlalu, ketika perang belum juga usai, lewatlah Janggan Smarasanta manusia cebol yang kemudian menjadi tempat menitis Semar Ismaya, dari padepokan Karang Kadempel. Semar tidak sampai hati melihat wajah dan tubuh kedua rusak. Maka Semar mencoba melerainya dengan kata-kata. Apakah yang kalian perebutkan hai anak muda? Ketampanan? Atau kesaktian? Karena sesungguhnya ketampanan dan kesaktian yang dianugerahkan sudah tidak ada padamu.

Lihatlah wajahmu telah rusak dan tidak ada pemenang diantara kalian. Mendengar seruan Semar, Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan seperti diberi aba-aba, mereka menghentikan pertengkarannya dan lari untuk mendapatkan permukaan air nan jernih untuk melihat wajahnya. Keduanya lungkai dan lemas mendapati wajahnya yang telah rusak. Mereka menyesali perbuatan bodohnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Atas penyesalan yang diungkapkan, Semar mengangkat mereka menjadi anaknya. Bambang Sukadadi, yang lebih tua diberi nama Gareng. Sedangkan Bambang Precupanyukilan menjadi adik Gareng bernama Petruk. Mengenai asal-usul Gareng ini ada beberapa versi, ada yang menyebutkan bahwa sebelumnya Gareng ini adalah anak dari pasangan Gandarwa Bausasra dan Nyi Luntrung yang berkuasa di wilayah gunung Nilandusa dengan nama Kucir.

Karena disia-siakan Kucir dan Kuncung adiknya di ambil anak oleh Semar dan namamnya diganti dengan Gareng dan Petruk. Sedangkan menurut versi pedhalangan khusunya yang sering diceritakan oleh dalang Jogyakarta, Gareng sebelumnya adalah anak raja Jin yang bernama Gandarwa Raja Bali, dengan nama Penyukilan. Ia berwajah tampan tetapi nakal. Ia memiliki saudara tua bernama Pecruk. Bersama dengan kakaknya itulah ia sering mengganggu orang yang sedang lewat. Pada suatu saat ketika sedang melakukan aksi pelet birahi �nakal�nya, Pecruk dan Penyukilan berhadapan dengan Semar yang baru saja turun dari Kahyangan, maka diganggulah Semar oleh keduanya. Tetapi Semar melawan bahkan kedua anak itu diinjak-injak hingga tubuhnya rusak. Akhirnya Pecruk dan Penyukilan mohon ampun dan mengaku kalah. Oleh Semar, kedua anak itu diampuni asal bersedia menemani menjadi pamomong satria. Pecruk dan Penyukilan bersedia menuruti kehendak Semar.

Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Penyukilan yang lebih dulu rusak tubuhnya, dianggap sebagai saudara sulung dan diberi nama Gareng. Kemudian Pecruk diangkat menjadi anak nomor dua. Dari beberapa versi tersebut, Gareng ditempatkan sebagai anak angkat Semar yang nomor satu, dan selalu bersama Semar menjadi pamomong satria berbudi luhur. Dalam pewayangan Gareng digambarkan sebagai seorang yang serba cacat. Matanya juling hidungnya bulat, tangannya ceko atau bengkok, perutnya buncit seperti, kakinya pincang karena sakit bubulen. Namun dibalik semua kekurangan pada fisiknya, Gareng adalah seseorang yang sederhana, rendah hati dan jujur. Dalam pentas wayang kulit purwa, Gareng selalu tampil pada tengah malam saat adegan gara-gara. Ia tampil bersama Semar, Petruk dan Bagong. Gareng mempunyai seorang istri bernama Dewi Sariwati putri Prabu Sarawasesa dari kerajaan Saralengka. Dalam sejarah hidupnya, Gareng pernah menjadi seorang raja bergelar Prabu Pandu Pragola di kerajaan Paranggumiwang. Nama lain Gareng adalah: Nala Gareng, Nalawangsa, Cekruk Tuna, Pancal Pamor, Pegat Waja. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Energi Matahari

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Artikel wayang, dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : Energi Matahari
link : Energi Matahari

Baca juga


Juni 2014

Figur Wayang Basukarno, sesaat setelah diwisuda menjadi seorang Adipadi (lukisan: Herjaka HS) Kidung Malam 93 Energi Matahari Di siang hari yang terik, Adipati Karno berjalan menyusuri tepi Sungai Gangga. Air sungai yang mengalir tenang mampu menampakkan wajah matahari secara utuh. Adipati Karno memilih memandangi wajah matahari tidak secara langsung, melainkan melalui gambaran yang dipantulkan oleh air sungai Gangga. Entah mengapa hal itu selalu dilakukukan oleh Adipati Karno sejak kanak-kanak hingga sekarang, saat dirinya telah diwisuda menjadi Adipati, oleh Duryudana. Jika ditanya mengapa hal itu dilakukan, Adipati Karno tidak tahu. Hanya saja saat Karno melakukan hal itu, ada getaran energi yang mengalir di dalam tubuh. Energi yang didapat dari pantulan matahari sangat membantu saat dirinya berada pada suasana yang sedang tidak menguntungkan. Seperti misalnya ketika masih remaja.

Karno diolok-olok oleh murid-murid Sokalima saat0 dirinya ingin ikut bergabung belajar ilmu kepada Pandita Durna. Para murid Sokalima yang terdiri dari Kurawa dan Pandawa mengusir Karno dengan kata-kata: �Anak kusir diusir, anak ratu dijamu� Karno tidak menanggapi olok-olokan tersebut, ia berlari meninggalkan halaman padepokan Sokalima, bukan karena takut, tetapi agar tidak menjadi bulan-bulanan oleh mereka. Jika hatinya sedang kacau seperti itu, ada magnet yang amat kuat agar Karno mengadu kepada matahari. Namun dikarenakan matanya tidak kuat menatap secara langsung, ia menatap matahari melalui pantulan yang ada di air. Ajaibnya, pada waktu Karno melakukan hal itu, kegundahan hatinya segera sirna. Ada energi baru yang memungkinkan Karno untuk menghadapi segala olok-olok dan cercaan hidup dengan dada yang tegap dan penuh percaya diri. Beberapa saat setelah menatap pantulan matahari, Karno pun kembali pada niat semula, yaitu belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi di Sokalima.

Entah apa yang terjadi kemudian, senyatanya Karno dapat dengan leluasa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Pandita Durna dari jarak jauh, tanpa diketahui oleh mereka dan tanpa olok-olok dari murid lain. Dengan penuh ketekunan, dalam beberapa waktu, Karno mengalami kemajuan yang pesat di dalam berolah senjata panah, tidak kalah jika dibandingkan dengan muri-murid Sokalima yang lain, bahkan murid-murid terbaik Sokalima, yaitu Ekalaya dan Arjuna Adirata bapaknya dan Nyi Rada Ibunya, tidak tahu apa yang dilakukan Karno anaknya, namun kedua orang tua tersebut melihat bahwa anaknya telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, terampil, penuh percaya diri dan yang istimewa bahwa Karno tidak pernah mengeluh dalam segala macam kesulitan hidup. Walaupun Karno tumbuh menjadi remaja yang mempunyai kelebihan dalam segala hal, jika dibandingkan dengan remaja-remaja pada umumnya, Adirata sebagai seorang sais kereta berpandangan sederhana, bahwa Karno diharapkan dapat mewarisi dirinya sebagai sais kereta. Oleh karenanya untuk menunjang hal itu, Adirata membelikan kereta kuda kepada Karno.

 Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua memang tidak mudah. Ada hal-hal yang perlu dikorbankan sebagai tanda bakti kepada orang tua. Seperti halnya yang dialami Karno, disatu sisi ia harus menerima pemberian orang tuanya berupa pelet jarak jauh kereta kuda untuk belajar menjadi sais, disisi lain Karno tidak pernah bermimpi menjadi seorang sais kereta seperti bapaknya. Oleh karenanya agar tidak mengecewakan orang tuanya, Karno selalu menyisihkan waktu untuk berlatih mengendarai kereta kuda, tetapi tidak untuk menjadi sais kereta, melainkan untuk menjadi senapati perang dikelak kemudian hari. herjaka HS

Figur Wayang Basukarno, sesaat setelah diwisuda menjadi seorang Adipadi (lukisan: Herjaka HS) Kidung Malam 93 Energi Matahari Di siang hari yang terik, Adipati Karno berjalan menyusuri tepi Sungai Gangga. Air sungai yang mengalir tenang mampu menampakkan wajah matahari secara utuh. Adipati Karno memilih memandangi wajah matahari tidak secara langsung, melainkan melalui gambaran yang dipantulkan oleh air sungai Gangga. Entah mengapa hal itu selalu dilakukukan oleh Adipati Karno sejak kanak-kanak hingga sekarang, saat dirinya telah diwisuda menjadi Adipati, oleh Duryudana. Jika ditanya mengapa hal itu dilakukan, Adipati Karno tidak tahu. Hanya saja saat Karno melakukan hal itu, ada getaran energi yang mengalir di dalam tubuh. Energi yang didapat dari pantulan matahari sangat membantu saat dirinya berada pada suasana yang sedang tidak menguntungkan. Seperti misalnya ketika masih remaja.

Karno diolok-olok oleh murid-murid Sokalima saat0 dirinya ingin ikut bergabung belajar ilmu kepada Pandita Durna. Para murid Sokalima yang terdiri dari Kurawa dan Pandawa mengusir Karno dengan kata-kata: �Anak kusir diusir, anak ratu dijamu� Karno tidak menanggapi olok-olokan tersebut, ia berlari meninggalkan halaman padepokan Sokalima, bukan karena takut, tetapi agar tidak menjadi bulan-bulanan oleh mereka. Jika hatinya sedang kacau seperti itu, ada magnet yang amat kuat agar Karno mengadu kepada matahari. Namun dikarenakan matanya tidak kuat menatap secara langsung, ia menatap matahari melalui pantulan yang ada di air. Ajaibnya, pada waktu Karno melakukan hal itu, kegundahan hatinya segera sirna. Ada energi baru yang memungkinkan Karno untuk menghadapi segala olok-olok dan cercaan hidup dengan dada yang tegap dan penuh percaya diri. Beberapa saat setelah menatap pantulan matahari, Karno pun kembali pada niat semula, yaitu belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi di Sokalima.

Entah apa yang terjadi kemudian, senyatanya Karno dapat dengan leluasa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Pandita Durna dari jarak jauh, tanpa diketahui oleh mereka dan tanpa olok-olok dari murid lain. Dengan penuh ketekunan, dalam beberapa waktu, Karno mengalami kemajuan yang pesat di dalam berolah senjata panah, tidak kalah jika dibandingkan dengan muri-murid Sokalima yang lain, bahkan murid-murid terbaik Sokalima, yaitu Ekalaya dan Arjuna Adirata bapaknya dan Nyi Rada Ibunya, tidak tahu apa yang dilakukan Karno anaknya, namun kedua orang tua tersebut melihat bahwa anaknya telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, terampil, penuh percaya diri dan yang istimewa bahwa Karno tidak pernah mengeluh dalam segala macam kesulitan hidup. Walaupun Karno tumbuh menjadi remaja yang mempunyai kelebihan dalam segala hal, jika dibandingkan dengan remaja-remaja pada umumnya, Adirata sebagai seorang sais kereta berpandangan sederhana, bahwa Karno diharapkan dapat mewarisi dirinya sebagai sais kereta. Oleh karenanya untuk menunjang hal itu, Adirata membelikan kereta kuda kepada Karno.

 Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua memang tidak mudah. Ada hal-hal yang perlu dikorbankan sebagai tanda bakti kepada orang tua. Seperti halnya yang dialami Karno, disatu sisi ia harus menerima pemberian orang tuanya berupa pelet jarak jauh kereta kuda untuk belajar menjadi sais, disisi lain Karno tidak pernah bermimpi menjadi seorang sais kereta seperti bapaknya. Oleh karenanya agar tidak mengecewakan orang tuanya, Karno selalu menyisihkan waktu untuk berlatih mengendarai kereta kuda, tetapi tidak untuk menjadi sais kereta, melainkan untuk menjadi senapati perang dikelak kemudian hari. herjaka HS

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

MANTRA RITUAL DANA GHAIB

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : MANTRA RITUAL DANA GHAIB
link : MANTRA RITUAL DANA GHAIB

Baca juga


Juni 2014

Dana Ghaib memang terbilang sangat mengiurkan bagi orang yang saat ini membutuhkan banyak dana untuk keperluan kehidupan sehari-hari dan untuk simpanan masa depannya. disini Kami tidak memberikan dana ghaib, melainkan hanya memberikan sebuah amalan yang mungkin diperlukan oleh banyak orang yang memang saat ini kebutuhannya sangat mendesak. hanya dengan Mantra Ritual Dana Ghaib ini jadikanlah amalan ini sebagai sumber rezeki yang mugkin bisa membantu Anda untuk menyelesaikan masalah keuangan Anda.

Dana Ghaib memang terbilang sangat mengiurkan bagi orang yang saat ini membutuhkan banyak dana untuk keperluan kehidupan sehari-hari dan untuk simpanan masa depannya. disini Kami tidak memberikan dana ghaib, melainkan hanya memberikan sebuah amalan yang mungkin diperlukan oleh banyak orang yang memang saat ini kebutuhannya sangat mendesak. hanya dengan Mantra Ritual Dana Ghaib ini jadikanlah amalan ini sebagai sumber rezeki yang mugkin bisa membantu Anda untuk menyelesaikan masalah keuangan Anda.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

MANTRA AJIAN

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : MANTRA AJIAN
link : MANTRA AJIAN

Baca juga


Juni 2014

Mantra Ajian yang satu ini berguna sebagai Mantra pelebur bisa dari hewan-hewan berbisa seperti : Ular, Kalajengking, dll. pernakah Anda melihat pada suatu hari disebuah Pasar Tradisional atau tempat Pameran yang digelar pada suatu tempat, dan disitu ada seseorang memperagakan antraksi untuk memikat mata orang yang melihat dengan mengigitkan seekor ular yang sangat berbisa, dan orang itu hanya tersenyum saja dan tiada efek/reaksi dari bisa gigitan ular tersebut. itu dikarenakan sebelum memulai Antraksi tersebut orang itu telah membaca Mantra Ajian ini sebelum mengigitkan ular tersebut ke anggota tubuhnya, maka dari itu dipastikan semua orang yang melihat pasti akan percaya dengan Produk yang dijual/ditawarkan kepada penonton tersebut.

Mantra Ajian yang satu ini berguna sebagai Mantra pelebur bisa dari hewan-hewan berbisa seperti : Ular, Kalajengking, dll. pernakah Anda melihat pada suatu hari disebuah Pasar Tradisional atau tempat Pameran yang digelar pada suatu tempat, dan disitu ada seseorang memperagakan antraksi untuk memikat mata orang yang melihat dengan mengigitkan seekor ular yang sangat berbisa, dan orang itu hanya tersenyum saja dan tiada efek/reaksi dari bisa gigitan ular tersebut. itu dikarenakan sebelum memulai Antraksi tersebut orang itu telah membaca Mantra Ajian ini sebelum mengigitkan ular tersebut ke anggota tubuhnya, maka dari itu dipastikan semua orang yang melihat pasti akan percaya dengan Produk yang dijual/ditawarkan kepada penonton tersebut.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

MANTRA AMPUH

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : MANTRA AMPUH
link : MANTRA AMPUH

Baca juga


Juni 2014

Mantra Ampuh untuk menetralisirkan bisa racun binatang, dan Mantra sebagai penakluk binatang buas ini sudah banyak yang telah berhasil untuk mendapatkannya. Mantra yang sangat cocok untuk orang yang bekerja sebagai pawang hewan, penjual hewan, dan juga orang yang suka mengikuti komunitas pecinta Binatang apa saja. mereka sebenarnya sudah mengerti resiko apa yang akan mereka dapatkan jika mereka memelihara binatang/hewan tersebut. dan mereka kadang pula pernah digigit atau dipatuk oleh hewan yang memiliki bisa sangat mematikan itu, disamping itu mereka juga tidak takut akan keganasan sawaktu-waktu jika hewan/binatang berbisa dan buas ini bisa memangsa pemiliknya/pemeliharanya.

Mantra Ampuh untuk menetralisirkan bisa racun binatang, dan Mantra sebagai penakluk binatang buas ini sudah banyak yang telah berhasil untuk mendapatkannya. Mantra yang sangat cocok untuk orang yang bekerja sebagai pawang hewan, penjual hewan, dan juga orang yang suka mengikuti komunitas pecinta Binatang apa saja. mereka sebenarnya sudah mengerti resiko apa yang akan mereka dapatkan jika mereka memelihara binatang/hewan tersebut. dan mereka kadang pula pernah digigit atau dipatuk oleh hewan yang memiliki bisa sangat mematikan itu, disamping itu mereka juga tidak takut akan keganasan sawaktu-waktu jika hewan/binatang berbisa dan buas ini bisa memangsa pemiliknya/pemeliharanya.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

MANTRA WANITA

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : MANTRA WANITA
link : MANTRA WANITA

Baca juga


Juni 2014

Mantra yang satu ini telah lama digunakan hingga saat ini, dikarenakan banyak orang terutama para wanita tidak mengetahuinya, maka dari itu banyak sekali pada jaman modern ini para wanita sering mempercantik wajahnya hingga seluruh tubuhnya dengan mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan hasil kecantikan dari sebuah Salon ataupun dengan mengkonsumsi obat yang sering di iklankan pada sebuah media masa.

Mantra yang satu ini telah lama digunakan hingga saat ini, dikarenakan banyak orang terutama para wanita tidak mengetahuinya, maka dari itu banyak sekali pada jaman modern ini para wanita sering mempercantik wajahnya hingga seluruh tubuhnya dengan mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan hasil kecantikan dari sebuah Salon ataupun dengan mengkonsumsi obat yang sering di iklankan pada sebuah media masa.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

MANTRA PEMIKAT

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : MANTRA PEMIKAT
link : MANTRA PEMIKAT

Baca juga


Juni 2014

Mantra Pemikat Hati yang satu ini memang sering digunakan oleh Orang yang selama ini kurang percaya diri, malu atau frustasi terhadap dirinya sendiri. karena golongan orang seperti ini sebenarnya sebelum bertindak lebih banyak berpikir yang negatif terlebih dahulu dan takut akan ditolak atau tidak diterima ungkapan yang akan diucapkannya di depan seseorang yang selama ini dia sayangi atau diperhatiin.

Mantra Pemikat Hati yang satu ini memang sering digunakan oleh Orang yang selama ini kurang percaya diri, malu atau frustasi terhadap dirinya sendiri. karena golongan orang seperti ini sebenarnya sebelum bertindak lebih banyak berpikir yang negatif terlebih dahulu dan takut akan ditolak atau tidak diterima ungkapan yang akan diucapkannya di depan seseorang yang selama ini dia sayangi atau diperhatiin.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

MANTRA AGAR MUKA BERCAHAYA

Juni 2014 - Selamat datang para pencari mantra ilmu pelet ampuh di situs PELET, di artikel yang kamu baca ini berjudul Juni 2014, saya telah membuat artikel ini khusus untuk kalian semua. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan kami tulis ini dapat anda ambil manfaatnya. Sip, selamat membaca dan mempelajari.

Judul : MANTRA AGAR MUKA BERCAHAYA
link : MANTRA AGAR MUKA BERCAHAYA

Baca juga


Juni 2014

Mantra yang satu ini berkhasiat untuk membuka aura ketampanan atau kecantikan pada sosok muka dan seluruh tubuh manusia. dijaman kerajaan dahulu Mantra ini banyak dimiliki oleh para ratu, dan selir yang sangat berpengaruh besar pada kerajaan. maka dari itu tidaklah mutlak jika sebuah lukisan yang bersosok seorang ratu pasti sangat cantik sekali.benar bukan ! memang benar, pada jaman kerajaan belum ada yang namanya kosmetik atau perlengkapan modern seperti saat ini. dan pada jaman dahulu bahan kecantikan dihasilkan dari bahan-bahan yang alami dan hanya mebuahkan hasil yang tidak maksimal seperti saat ini. tapi!! mengapa para ratu ataupun selir terlihat sangat menawan dan anggun sekali. dan jika seseorang melihatnya dia akan terkagum-kagum melihat kecantikannya.

Mantra yang satu ini berkhasiat untuk membuka aura ketampanan atau kecantikan pada sosok muka dan seluruh tubuh manusia. dijaman kerajaan dahulu Mantra ini banyak dimiliki oleh para ratu, dan selir yang sangat berpengaruh besar pada kerajaan. maka dari itu tidaklah mutlak jika sebuah lukisan yang bersosok seorang ratu pasti sangat cantik sekali.benar bukan ! memang benar, pada jaman kerajaan belum ada yang namanya kosmetik atau perlengkapan modern seperti saat ini. dan pada jaman dahulu bahan kecantikan dihasilkan dari bahan-bahan yang alami dan hanya mebuahkan hasil yang tidak maksimal seperti saat ini. tapi!! mengapa para ratu ataupun selir terlihat sangat menawan dan anggun sekali. dan jika seseorang melihatnya dia akan terkagum-kagum melihat kecantikannya.

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

DAFTAR KEILMUAN

ads

    Mahar: Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah)
    Keterangan: Paket 30 Ilmu Pelet Paling Ampuh berisi 30 jenis keilmuan pelet tingkat tinggi asli Nusantara yang sudah terbukti ampuh untuk berbagai persoalan cinta asmara dan keluarga, kami berikan lengkap 30 jenis keilmuan berbeda ini kepada anda disertai khodam keilmuan yang diambil dari ayat – ayat mahabah pilihan sehingga aman di gunakan oleh siapapun tanpa resiko sama sekali.

    Mahar: Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) + ongkos kirim sesuai alamat anda
    Keterangan: Paket Ilmu Sapu Angin Khizib Bayu adalah suatu keilmuan yang sangat luar biasa, hanya dengan satu keilmuan ini bisa mengeluarkan berbagai fungsi yang sangat menakjubkan, seperti memindahkan awan hujan, berkomunikasi dengan ruh seseorang yang sedang tertidur, pengasihan, melancarkan rizky, kekebalan dan kesaktian, pagar ghoib, berkomunikasi dengan khodam, melakukan pengisian azimat, menghilang dari pandangan musuh, menundukkan hewan buas dan masih banyak lagi fungsi menakjubkan lainnya. Tanpa ritual atau puasa. Menggunakan pengisian dari kami melalui garam rajah dan asmak yang akan kami kirimkan kealamat anda.

    Mahar: Rp. 101.000 (seratus seribu rupiah) + ongkos kirim sesuai alamat anda
    Keterangan: Paket Minyak Rajah Al Karomah 1001 Khasiat merupakan minyak yang kami isi menggunakan energi beberapa jenis keilmuan hikmah dan khizib serta ayat – ayat dan doa tertentu yang sangat mustajab. Fungsi dari satu jenis minyak rajah ini setara dengan belasan jenis minyak pelet ampuh yang biasa di jual di tempat para praktisi supranatural. Multi fungsi dan kami juga akan ajarkan anda untuk bisa melakukan isi ulang minyak tersebut. Mahar sangat terjangkau hanya sebagai pengganti biaya minyak dan mahar prosesi serta ongkos kirim saja.

    Mahar: Rp. 77.000 (tujuh puluh tujuh ribu rupiah)
    Keterangan: Paket 30 Jenis Ilmu Kesaktian & Kekebalan berisi 30 jenis ilmu kesaktian dan juga kekebalan tingkat tinggi dengan tuah ampuh luar biasa asli peninggalan nenek moyang Nusantara. Dari ilmu kebal terhadap benda tumpul, pukulan, dan senjata tajam serta peluru. Bisa membuat kaku seperti patung orang yang menyerang kita, halimunan, rawarontek dan masih banyak lagi keilmuan ampuh sakti dan terbukti luar biasa tuahnya ini. Kami buatkan khodam khusus untuk anda dan 30 jenis keilmuan tersebut akan menjadi milik anda semuanya.

    Mahar: Rp. 79.000 (tujuh puluh sembilan ribu rupiah)
    Berisi teknik dalam melakukan gurah hidung dan pernafasan lengkap dengan tata caranya step by step aman dan alami, diajarkan juga cara membuat ramuan gurah tradisional yang alami dan mujarab.

    Mahar: Rp. 977.000 (sembilan ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah)
    Berupa minyak bulu perindu yang sudah di berikan tambahan khusus berupa energi ilmu hikmah dan khizib serta doa doa mustajabah. Anda juga akan di berikan bonus spesial berupa seluruh paket keilmuan yang ada dalam situs ini secara Gratis.

    Mahar: Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah)
    Paket ini berupa garam rajah dan minyak untuk prosesi ruwatan anda dan keluarga maksimal 7 orang, bisa untuk tempat usaha rumah dan lainnya, sangat ampuh menghilangkan berbagai sengkolo dan kesialan dalam kehidupan.